Sulut1news.com, Jakarta — Jalur perdagangan laut terpenting dunia yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik kembali terancam terhambat. Otoritas Terusan Panama (ACP) secara resmi mengumumkan pembatasan jumlah kapal yang boleh melintas, menyusul proyeksi penurunan ketinggian air yang dipicu fenomena El Nino. Kebijakan ini berpotensi mengguncang kembali rantai pasok global dan menaikkan biaya pengiriman barang internasional.
Melansir laporan Al Jazeera, pembatasan berlaku bertahap:
– 4 September 2026: dibatasi menjadi 34 kapal per hari
– 15 September 2026: dipangkas lagi menjadi 32 kapal per hari
Langkah ini menandai perubahan arah kebijakan ACP yang sebelumnya menyatakan tidak akan membatasi lalu lintas kapal sepanjang tahun 2026.
Terusan Panama menangani sekitar 5% dari total perdagangan maritim dunia. Dalam kondisi normal, jalur ini melayani sekitar 40 kapal per hari, dan sejak Juni 2026 rata-rata masih tercatat 35 kapal per hari. Penurunan kapasitas berarti antrean kapal memanjang, waktu pengiriman tertunda, dan biaya logistik berpotensi naik — biaya yang pada akhirnya juga dapat dibebankan ke konsumen.
Terusan Panama mengandalkan sistem pintu air yang membutuhkan air tawar dalam jumlah besar untuk menaikkan dan menurunkan kapal. Sumber air utama berasal dari danau-danau di sekitar kawasan, termasuk Danau Gatun, yang sekaligus juga memasok air minum bagi kota-kota di Panama, termasuk ibu kota Panama City.
Tekanan ganda ini — kebutuhan air untuk pelayaran sekaligus kebutuhan air bersih untuk warga — menjadi semakin berat saat curah hujan turun akibat El Nino. Fenomena ini diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah, meningkatkan risiko kekeringan di banyak kawasan dunia.
Pada 2023, kekeringan parah sempat memangkas lalu lintas kapal hingga 36%, memicu antrean panjang dan memaksa kapal mengambil jalur alternatif yang lebih jauh dan mahal. Kini, dengan El Nino yang diprediksi semakin kuat, risiko terulangnya gangguan serupa menjadi nyata.
Redaksi






