Sulut1news.com, Washington – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial terkait Selat Hormuz. Trump menyebut jalur pelayaran strategis tersebut sebagai “wilayah Amerika” di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Washington dan Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam kampanye di Myrtle Beach, Carolina Selatan, Jumat (21/8) waktu setempat. Ia kembali menegaskan bahwa AS memiliki kendali atas kawasan Selat Hormuz dan mengaitkannya dengan blokade laut yang sedang dilakukan Washington terhadap Iran.
Trump bahkan sebelumnya telah mengatakan akan secara resmi menetapkan Selat Hormuz sebagai wilayah AS. Dalam pernyataannya di New York pada 14 Agustus, Trump mengatakan langkah tersebut akan dilakukan setelah AS “mengalahkan” Iran.
Klaim Trump ini langsung menimbulkan sorotan karena Selat Hormuz bukan wilayah Amerika Serikat. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab itu berada di antara Iran dan Oman serta menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Bukan Sekadar Perebutan Wilayah
Pernyataan Trump memiliki arti strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar klaim teritorial. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak yang diangkut melalui laut secara global biasanya melewati kawasan tersebut.
Karena itu, setiap gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz berpotensi langsung mengguncang pasar energi dan perdagangan internasional.
Reuters melaporkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah turun drastis di tengah kebuntuan antara AS dan Iran. Data Kpler menunjukkan hanya sembilan kapal komoditas yang melintas pada Selasa dan Rabu pekan ini, jauh di bawah kondisi normal.
Trump sebelumnya mengklaim AS telah memiliki “kendali total” atas Selat Hormuz dan mengatakan blokade laut Amerika telah menjadi penghalang bagi kapal-kapal yang hendak melintas.
Namun, data pelayaran menunjukkan bahwa lalu lintas kapal masih berlangsung meski dalam volume yang jauh lebih rendah dibandingkan sebelum konflik.
Iran Tolak Klaim Trump
Teheran dengan tegas menolak klaim Trump. Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap menjadi bagian dari wilayahnya dan menyebut pernyataan Washington sebagai klaim yang tidak berdasar.
Perselisihan mengenai Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik AS-Iran. Selain menyangkut kedaulatan dan keamanan kawasan, penguasaan jalur tersebut juga berkaitan langsung dengan kebebasan navigasi serta arus energi dunia.
Situasi semakin rumit setelah upaya diplomatik antara Washington dan Teheran mengalami kebuntuan. Di sisi lain, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk ancaman sanksi baru yang disebut sebagai operasi ekonomi terbesar dan paling menghancurkan terhadap Teheran.
Dengan kondisi tersebut, klaim Trump mengenai Selat Hormuz berpotensi memperlebar konflik yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Jika ketegangan kembali meningkat dan pelayaran semakin terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran dan negara-negara Teluk, tetapi juga dapat merembet ke pasar minyak dan perekonomian global.
Redaksi






