Sulut1news.com, Los Angeles — Fenomena penggunaan media sosial di kalangan anak-anak kembali menjadi sorotan serius, menyusul terungkapnya kisah memilukan dalam sebuah sidang perdata di Los Angeles, Amerika Serikat. Persidangan ini tidak sekadar membahas tanggung jawab hukum perusahaan teknologi, tetapi juga membuka sisi gelap dunia digital yang kerap luput dari perhatian: dampaknya terhadap kesehatan mental anak.
Dalam sidang tersebut, psikolog berlisensi Victoria Burke dihadirkan sebagai saksi ahli. Ia memberikan kesaksian terkait kondisi seorang remaja perempuan yang diidentifikasi sebagai Kaley GM, yang sejak usia dini telah aktif menggunakan platform digital—YouTube sejak usia 6 tahun dan Instagram pada usia 9 tahun.
Burke mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendiagnosis Kaley dengan gangguan kecemasan umum. Namun, seiring perkembangan kondisi, diagnosis tersebut direvisi menjadi fobia sosial dan gangguan dismorfik tubuh—dua kondisi yang erat kaitannya dengan tekanan sosial dan persepsi diri.
Meski tidak secara langsung menyimpulkan bahwa media sosial menjadi penyebab utama, Burke menegaskan bahwa pengalaman Kaley di dunia digital berperan sebagai salah satu faktor yang memperburuk kondisi mentalnya. Dalam persidangan, terungkap bahwa Kaley kerap menjadi sasaran perundungan daring oleh teman-temannya—sebuah realitas yang semakin umum terjadi di kalangan remaja.
“Pengalaman di media sosial menjadi bagian dari dinamika yang memengaruhi kondisi psikologisnya,” ujar Burke dalam pemeriksaan silang.
Yang lebih menyentuh, Kaley sempat mencoba menjauh dari media sosial dengan “menghapus” dirinya dari platform tersebut. Namun, seperti banyak anak seusianya, ia akhirnya kembali—menunjukkan betapa kuatnya daya tarik sekaligus ketergantungan terhadap ruang digital.
Di sisi lain, kisah ini juga menggambarkan kompleksitas hubungan anak dengan media sosial. Kaley mengaku menikmati proses kreatif membuat video dan membagikannya secara online. Namun, rasa bangga itu kerap berubah menjadi frustrasi ketika karyanya diambil alih atau tidak dihargai oleh orang lain.
Persidangan ini menjadi bagian dari gelombang gugatan yang semakin meningkat terhadap perusahaan teknologi, yang dituding merancang aplikasi dengan fitur adiktif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi pengguna muda.
Kasus Kaley GM menjadi pengingat bahwa di balik layar ponsel dan konten yang tampak menghibur, ada tekanan psikologis yang nyata. Para ahli kini semakin menekankan pentingnya peran orang tua, pendidik, dan regulator untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pertanyaan besarnya kini bukan lagi sekadar bagaimana anak menggunakan media sosial, tetapi sejauh mana dunia digital turut membentuk—atau bahkan mengganggu—kesehatan mental generasi masa depan.
Sumber CNBC Indonesia






