Sulut1news.com, Jakarta – “Jika tidak ada kesepakatan, ini akan sangat traumatis bagi Iran” – ujar Presiden AS Donald Trump dalam peringatan keras yang disampaikan Kamis (12/2/2026), saat Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) melaksanakan pengerahan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini menambah tekanan militer di tengah upaya pembicaraan tidak langsung yang baru saja dimulai pekan lalu mengenai masa depan program nuklir Iran.
Dua Kapal Induk Bersiap Mengamuk, USS Gerald R. Ford Bergabung dengan USS Abraham Lincoln
Pada akhir bulan Januari lalu, Trump telah mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armada pendampingnya ke Teluk Persia, sebagai tanggapan atas tindakan keras Teheran terhadap gelombang protes anti-pemerintah yang menewaskan banyak korban. Kini, kapal induk tercanggih AS, USS Gerald R. Ford, akan bergabung dengan kelompok tempur tersebut setelah diperintahkan berpindah dari lokasi penempatan sebelumnya di Laut Karibia.
“Saya rasa dalam satu bulan ke depan, kira-kira seperti itu. Ini harus terjadi dengan cepat. Mereka harus setuju dengan sangat cepat,” tegas Trump saat ditanya mengenai tenggat waktu yang diberikan kepada Iran.
Pengerahan USS Gerald R. Ford ini telah dilaporkan oleh sejumlah media besar AS seperti The Wall Street Journal, New York Times, dan CBS News, mengutip sumber pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya. Hingga kini, Pentagon belum memberikan tanggapan resmi terkait perkembangan ini, dan tidak ada kepastian berapa lama kedua kapal induk tersebut akan tetap bersiaga di kawasan.
Dari Operasi Venezuela hingga Tantangan Iran
Menurut laporan New York Times, USS Gerald R. Ford awalnya dikerahkan pada bulan Juni tahun lalu dan diarahkan ke Karibia sebagai bagian dari kampanye tekanan Trump terhadap pemerintah Venezuela. Kapal induk tersebut bahkan telah berperan dalam operasi militer pada tanggal 3 Januari yang mengakibatkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kini, fokus kekuatan militer AS bergeser drastis ke Timur Tengah, sementara kedua negara masih tengah menjalani tahap awal pembicaraan tidak langsung mengenai program nuklir yang menjadi titik panas hubungan kedua belah pihak selama bertahun-tahun.
Sulut1news.com
Sumber CNBC Indonesia






