Sulut1news.com, Manado 14 Februari 2026 – Pada 15 Februari 1946, tepat saat umat berdatangan untuk misa pagi, tiga pemuda dari Pasukan Merah Putih melakukan aksi yang mengguncang kota Tomohon. Tak dengan senjata tajam atau peluru, melainkan dengan sebuah gunting yang dipinjam dari kostor gereja—mereka memotong bagian biru dari bendera Merah Putih Biru dan mengibarkan kembali sang Panji Merah Putih sebagai simbol klaim atas tanah air.
SAAT MISALAN PAGI MENADI SEJARAH
Peristiwa yang terjadi di depan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Tomohon—yang keliru disebut Gereja Besi—berawal dari kedatangan Pasukan Merah Putih yang sebelumnya telah menguasai Manado. Ketika Jan Runtuwene, kostor gereja, sedang bersiap membunyikan lonceng untuk perayaan Ekaristi, tiga anggota pasukan yaitu Derek Kapoyos, Ben Wowiling, dan Tommy Mantow datang dengan permintaan tak terduga: “Jangan dulu membunyikan lonceng, kami perlu meminjam gunting.”
Tanpa mengetahui tujuan sebenarnya, Jan mengambil gunting dari kantor pastoran. Tak lama kemudian, bendera Merah Putih Biru yang berkibar di sisi kiri gereja—biasanya dipasang di depan Biara Walterus—diturunkan. Dengan gerakan tegas, bagian biru yang melambangkan kekuasaan Belanda dipotong, dan sisa kain yang menjadi bendera Merah Putih dinaikkan kembali ke tiang.
“Masyarakat yang sudah berkumpul, termasuk para suster Belanda, sipil, dan tentara NICA menyaksikan momen itu. Ada yang menangis melihat bendera negara mereka diganti,” kenang Hendricus Benedictus Palar (Ben), yang saat itu baru berusia 11 tahun dan menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
RUNTUTAN PERJUANGAN DARI MANADO KE TOMOHON
Aksi di Tomohon bukanlah peristiwa tunggal. Sebelumnya, pada 14 Februari 1946, telah terjadi peristiwa serupa di Teling Manado yang dilakukan oleh kelompok pemuda yang dipimpin oleh B.W. Lapian dan rekannya. Kedatangan Pasukan Merah Putih ke Tomohon bertujuan untuk mengamankan para petinggi Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA) yang bermarkas di kota tersebut, termasuk Komandan Overste de Vries dan Residen Coomans de Ruyter.
De Vries ditangkap di markas Polisi Tomohon, sedangkan de Ruyter ditemukan di kediamannya di kompleks RS Gunung Maria. Kedua pejabat tersebut bersama sejumlah pejabat inti NICA menjadi sandera dalam upaya mematahkan kekuasaan kolonial di daerah Minahasa.
DAMPAK YANG MEMBANGKITKAN SEMANGAT BANGSA
Peristiwa di Teling dan Tomohon menjadi pemicu semangat perjuangan di seluruh Sulawesi Utara. Para pemuda semakin terkonsolidasi, dan berbagai organisasi kepemudaan terbentuk, salah satunya adalah Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) yang dipimpin Eddy Mongdong di Tomohon.
PPI mengadakan upacara besar di halaman kantor distrik Tomohon (sekarang lokasi RS Bethesda), yang dipimpin langsung oleh Hukum Besar R.C.L. Lasut dengan kehadiran Residen B.W. Lapian, wakil Tentara Republik Indonesia Sulawesi (TRISU), pemuka agama, dan masyarakat. Pada akhir upacara, Lasut mengajak hadirin menyanyikan Indonesia Raya lengkap tiga bait dan berseru: “Panji Merah Putih telah berkibar, Indonesia Raya telah dinyanyikan. Cita-cita bangsa, terlebih cita-cita pemuda, telah tercapai!”
Sejarawan Ivan Kaunang menjelaskan bahwa peristiwa ini berdampak luas di seluruh Minahasa, di mana para pemuda melucuti tangsi militer dan kantor Belanda. Bahkan Soekarno pernah menyatakan: “Minahasa walaupun sebuah bangsa yang kecil, tapi mampu menunjukkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945.”
LATAR BELAKANG: TOMOHON SEBAGAI PUSAT KEKUASAAN NICA
Pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Tomohon dijadikan pusat pemerintahan sipil dan militer NICA karena banyak fasilitas di Manado hancur akibat pemboman sekutu. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 2 September 1945, pasukan Australia yang dikenal sebagai “Manado Force” datang untuk melucuti pasukan Jepang, sebelum menyerahkan kekuasaan kepada NICA pada awal 1946.
NICA kemudian menerapkan kebijakan provokatif, antara lain mengganti mata uang dengan perbandingan 40:1, menangkap orang yang dianggap pro-Jepang, dan melarang penyanyian Indonesia Raya serta pengibaran bendera Merah Putih. Kondisi ini menjadi pemicu lahirnya semangat perlawanan di kalangan pemuda Minahasa.
(EL)
Sumber: https://kelung.id/tomohon-1946-ketika-pemuda-merebut-kebebasan/?amp=1
#PeristiwaMerahPutihTomohon #SejarahKemerdekaan #MinahasaBerjuang






