Sulut1news.com, Jakarta — Tekanan geopolitik global kembali mengguncang stabilitas pasar keuangan nasional. Ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga kisaran US$100 per barel, ditambah penguatan dolar Amerika Serikat, kini mulai menekan nilai tukar rupiah dan memicu arus keluar modal asing dari Indonesia.
Di tengah situasi tersebut, (BI) mengambil langkah antisipatif dengan berencana meningkatkan kembali penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meredam gejolak pasar.
Gubernur BI, , menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi penyeimbangan antara intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, dan pengendalian arus keluar modal.
“Untuk 2026 ini, SRBI akan mulai dinaikkan agar kami bisa menyeimbangkan kebutuhan stabilisasi nilai tukar, intervensi, dan menjaga agar outflow tidak semakin dalam,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Rupiah Tertekan, Modal Asing Keluar
Tekanan terhadap rupiah semakin nyata setelah mata uang Garuda sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di Rp17.090 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Pelemahan ini mencerminkan kombinasi faktor eksternal, mulai dari eskalasi konflik global hingga pergeseran aliran dana investor ke aset safe haven.
Fenomena ini juga sejalan dengan tren global, di mana dana asing mengalir keluar dari negara berkembang (emerging markets) menuju instrumen investasi yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian.
SRBI Kembali Diperkuat, Arah Kebijakan Berubah
Langkah BI untuk meningkatkan SRBI sekaligus menandai perubahan arah kebijakan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, BI justru menurunkan volume SRBI secara signifikan guna mendorong penyaluran kredit perbankan.
Data menunjukkan, volume SRBI turun dari Rp923,53 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp730,89 triliun pada akhir 2025. Kebijakan ini bertujuan menciptakan likuiditas longgar agar sektor perbankan lebih agresif menyalurkan pembiayaan ke dunia usaha.
Namun memasuki 2026, arah tersebut mulai berbalik. Penerbitan SRBI kembali meningkat menjadi Rp755 triliun pada Januari, naik ke Rp837 triliun pada Februari, dan berada di kisaran Rp831 triliun per 30 Maret 2026.
Dampak Nyata ke Masyarakat dan Dunia Usaha
Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar keuangan. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat, terutama melalui potensi kenaikan harga barang impor, termasuk bahan pangan dan kebutuhan pokok.
Bagi pelaku usaha, kondisi ini juga menimbulkan tekanan ganda. Importir menghadapi lonjakan biaya, sementara perusahaan dengan utang dalam dolar AS harus menanggung beban bunga yang lebih besar.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak global turut memperbesar tekanan inflasi domestik, mengingat ketergantungan Indonesia terhadap energi impor masih cukup tinggi.
BI Siapkan Strategi Re-kalibrasi
Menghadapi dinamika ini, BI menegaskan akan terus melakukan “re-kalibrasi” kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi. Kombinasi instrumen seperti intervensi pasar valas, pengelolaan likuiditas, dan optimalisasi SRBI akan menjadi kunci dalam meredam volatilitas.
“Terjadi outflow besar dari emerging market ke pasar keuangan global, baik obligasi maupun saham. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama, sehingga kami perlu menyesuaikan kembali bauran kebijakan,” jelas Perry.
Ke depan, pasar akan mencermati seberapa agresif BI dalam meningkatkan SRBI, serta efektivitas kebijakan tersebut dalam menahan laju pelemahan rupiah di tengah tekanan global yang belum mereda.
Redaksi






