Internasional

Saudi Siapkan Operasi Militer Besar di Yaman, Bab el-Mandeb Jadi Titik Panas Baru Timur Tengah

5
×

Saudi Siapkan Operasi Militer Besar di Yaman, Bab el-Mandeb Jadi Titik Panas Baru Timur Tengah

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta — Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase mengkhawatirkan. Arab Saudi dilaporkan tengah mempersiapkan operasi militer terhadap kelompok Houthi di Yaman, dengan salah satu sasaran utama merebut kembali wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Rencana tersebut, menurut sejumlah pejabat regional dan Barat yang dikutip Reuters, sedang disiapkan dengan beberapa skenario. Operasi dapat berupa serangan terbatas di sepanjang pesisir Laut Merah atau serangan lebih luas secara serentak di sejumlah front.

Jika operasi berskala besar diputuskan, lebih dari 100.000 personel pasukan Yaman yang berada di bawah pengawasan Riyadh berpotensi dikerahkan. Serangan udara Saudi diperkirakan menjadi bagian penting dari operasi tersebut.

Namun hingga kini belum ada kepastian kapan operasi akan dimulai. Sumber-sumber yang mengetahui persiapan tersebut memperkirakan waktunya dapat berlangsung dalam beberapa pekan mendatang, sementara sumber lain menyebut kemungkinan setelah pemilu sela Amerika Serikat pada awal November.

Bab el-Mandeb Jadi Perebutan Utama

Salah satu faktor yang membuat rencana Saudi menjadi perhatian internasional adalah posisi Selat Bab el-Mandeb.

Selat yang berada di antara Yaman, Djibouti dan Eritrea itu merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan selanjutnya menuju Samudra Hindia.

Menurut sejumlah pejabat Teluk, Yaman dan diplomat Barat, Houthi dalam beberapa waktu terakhir bergerak di sepanjang kawasan pesisir dan memperkuat pengaruhnya di sekitar jalur tersebut.

Bagi Riyadh, penguasaan Bab el-Mandeb oleh Houthi bukan hanya persoalan keamanan perbatasan. Posisi tersebut juga berpotensi memberikan kelompok yang didukung Iran itu pengaruh lebih besar terhadap lalu lintas perdagangan dan pelayaran internasional.

Kondisi tersebut menjadi semakin sensitif di tengah terganggunya jalur pelayaran lain akibat konflik di kawasan.

Baca Juga:  AS-Iran di Ambang Perang: Armada Besar Trump Siap Tempur, Iran Ancam Balasan 'Belum Pernah Terjadi'

Pejabat Teluk dan diplomat Barat menyebut Riyadh menilai perundingan damai dengan Houthi akan semakin sulit dilakukan selama kelompok tersebut tetap memiliki kendali atas wilayah strategis di sekitar Bab el-Mandeb.

Dua Skenario Disiapkan

Menurut sumber-sumber yang mengetahui rencana tersebut, Saudi setidaknya mempertimbangkan dua pilihan.

Skenario pertama adalah operasi terbatas yang berfokus pada kawasan Bab el-Mandeb dan wilayah pesisir untuk mengamankan kembali jalur pelayaran.

Skenario kedua merupakan operasi dengan skala jauh lebih besar melalui serangan terkoordinasi di sejumlah wilayah, termasuk Al-Bayda, Marib, Taiz dan Al-Jawf.

Pilihan kedua berpotensi mengubah kembali peta konflik Yaman. Puluhan ribu hingga lebih dari 100.000 pasukan lokal dapat dilibatkan dalam operasi darat, sementara kekuatan udara Saudi memberikan dukungan dari luar.

Meski demikian, kemampuan pasukan anti-Houthi menjadi salah satu persoalan terbesar.

Analis Yaman Mohammed Albasha menilai berbagai kelompok yang berseberangan dengan Houthi masih menghadapi persoalan organisasi, koordinasi dan kesiapan tempur.

Menurutnya, pasukan tersebut harus menghadapi Houthi yang mampu memberikan tekanan di sejumlah front secara bersamaan.

Amerika Bantu Intelijen, Tak Turun Langsung

Amerika Serikat dilaporkan memberikan dukungan intelijen kepada Saudi untuk membantu persiapan operasi.

Dukungan tersebut antara lain berkaitan dengan informasi penentuan sasaran bagi operasi udara. Namun, berdasarkan laporan Reuters, Washington sejauh ini tidak diperkirakan terlibat langsung dalam operasi tempur.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya dilaporkan menolak permintaan Saudi untuk memberikan dukungan militer langsung, termasuk serangan udara.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun Washington tetap memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Riyadh, keterlibatan langsung AS dalam konflik Yaman memiliki batas.

Pakistan dan Turki Ikut Perkuat Pertahanan Saudi

Saudi juga dilaporkan memperoleh dukungan pertahanan dari sejumlah negara.

Baca Juga:  Tarif Dagang 19% Jadi Ancaman PHK Massif – Apindo Minta Prabowo Borong Pasar Baru Saat Temui Trump

Pakistan disebut telah mengirim sejumlah pesawat kargo ke Aden yang membawa peralatan militer, termasuk sistem pertahanan udara, artileri ringan, drone dan perangkat antidrone.

Seorang pejabat Pakistan juga menyebut penasihat militer negaranya berada di lapangan bersama personel Saudi untuk membantu pasukan Yaman.

Namun, Pakistan belum memutuskan untuk mengirim tentaranya ke Yaman sebagai pasukan tempur.

Sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara Pakistan disebut telah ditempatkan di wilayah Saudi secara bertahap untuk membantu menjaga perbatasan dan menghadapi ancaman drone serta rudal.

Turki juga disebut memberikan dukungan melalui penggunaan drone buatan Turki yang sebelumnya telah dibeli Saudi.

Sementara itu, Prancis telah mengumumkan pengiriman sistem pertahanan dan personel ke Saudi untuk membantu melindungi kota pelabuhan Yanbu di kawasan Laut Merah.

Ancaman Serangan Balasan Jadi Kekhawatiran Riyadh

Persoalan lain yang menjadi perhatian Saudi adalah potensi serangan balasan Houthi.

Jika operasi militer benar-benar dilancarkan, fasilitas minyak, instalasi energi, kota-kota strategis dan infrastruktur Saudi berpotensi menjadi sasaran serangan rudal maupun drone.

Karena itu, Riyadh disebut telah meminta bantuan sejumlah sekutu untuk memperkuat sistem pertahanan udara dan menghadapi ancaman serangan dari Yaman.

Situasi tersebut membuat operasi militer di Yaman bukan sekadar persoalan memenangkan pertempuran di darat. Saudi juga harus mempertimbangkan kemampuan Houthi melakukan serangan jarak jauh dan mengganggu infrastruktur vital.

Pasukan Yaman Masih Terpecah

Operasi darat juga menghadapi tantangan lain. Pasukan anti-Houthi di Yaman tidak berada dalam satu struktur komando yang sepenuhnya solid.

Sejumlah kelompok sebelumnya memperoleh persenjataan dan pelatihan dari Saudi maupun Uni Emirat Arab. Namun kepentingan politik dan militer masing-masing kelompok membuat kekuatan anti-Houthi tetap terfragmentasi.

Baca Juga:  Muslim Arab Ella Waweya Jadi Juru Bicara Bahasa Arab IDF Pertama dengan Pangkat Tertinggi, Gantikan Legenda Kolonel Adraee

Perpecahan tersebut bahkan sempat memicu bentrokan antara kelompok yang didukung UEA dengan pasukan yang memperoleh dukungan Saudi.

Analis politik Saudi Ali Shihabi mengatakan keberhasilan operasi nantinya sangat bergantung pada kemampuan pasukan lokal yang bertempur di lapangan.

“Prioritas sejauh ini adalah mempertahankan posisi di lapangan dan menstabilkan front, tetapi tentu saja mereka akan melakukan serangan,” katanya.

Ia menambahkan, kualitas kinerja pasukan lokal akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan hasil operasi.

Yaman Berpotensi Jadi Titik Konflik Baru

Saudi sebelumnya terlibat langsung dalam perang saudara Yaman sejak 2015 dengan memimpin koalisi Arab yang mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Gencatan senjata yang dicapai pada 2022 secara umum berhasil menurunkan intensitas konflik. Namun ketegangan kembali meningkat seiring meluasnya konflik di Timur Tengah dan serangkaian serangan Houthi.

Jika Riyadh benar-benar membuka operasi militer baru, Yaman berpotensi kembali menjadi salah satu pusat konflik utama di kawasan.

Apalagi Houthi kini dipandang sebagai salah satu kelompok bersenjata yang memiliki hubungan paling kuat dengan Iran setelah melemahnya sejumlah kelompok sekutu Teheran lainnya di Timur Tengah.

Dengan Bab el-Mandeb berada di tengah pertarungan kepentingan tersebut, konflik Yaman tidak lagi semata-mata menyangkut perebutan wilayah.

Keamanan jalur pelayaran, perdagangan internasional, fasilitas energi dan keseimbangan kekuatan regional ikut dipertaruhkan.

Untuk saat ini, belum ada kepastian apakah Riyadh akan memilih operasi terbatas atau membuka serangan dalam skala lebih luas. Namun persiapan pasukan, penguatan pertahanan dan dukungan dari sejumlah negara menunjukkan bahwa kawasan Laut Merah kembali menghadapi potensi eskalasi serius.