Sulut1news.com, Jakarta – Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran bukan hanya mengguncang stabilitas Timur Tengah, tetapi juga membuka babak baru dalam peta politik kawasan. Di tengah serangan bersama yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sorotan kini tertuju pada sikap negara-negara Arab yang dinilai berada dalam posisi serba sulit—antara solidaritas kawasan dan ketergantungan strategis pada Washington.
Serangan yang dilancarkan akhir Februari lalu memicu respons balasan dari Teheran. Iran menargetkan instalasi militer Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di sejumlah negara Arab. Namun alih-alih mengecam operasi awal AS-Israel, mayoritas negara Teluk justru bereaksi keras terhadap serangan balik Iran.
Dilema di Tengah “Board of Peace”
Momentum serangan terjadi saat Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump tengah menggagas forum perdamaian kawasan bernama Board of Peace (BoP), yang diresmikan pada 22 Januari. Forum ini beranggotakan 27 negara, termasuk Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Israel.
Secara normatif, BoP bertujuan menciptakan stabilitas jangka panjang di Timur Tengah. Namun, keterlibatan langsung AS dan Israel dalam operasi militer ke Iran menimbulkan paradoks diplomatik.
Pengamat hubungan internasional menilai, ketika ketua sekaligus anggota forum perdamaian terlibat dalam peperangan, negara-negara anggota berada dalam posisi dilematis. Mengecam serangan berarti berseberangan dengan Washington, tetapi diam dapat ditafsirkan sebagai pembiaran.
Ketergantungan Keamanan yang Tak Terhindarkan
Menurut pakar hubungan internasional Universitas Indonesia, Sya’roni Rofii, negara-negara Arab berada dalam posisi terjepit karena serangan dipimpin langsung oleh AS—mitra keamanan utama mereka.
Amerika Serikat memiliki pangkalan militer strategis di Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Yordania, Irak, dan Israel. Di kawasan yang rentan konflik, kerja sama pertahanan dengan Washington menjadi tulang punggung stabilitas nasional negara-negara Teluk.
Arab Saudi, misalnya, memandang AS sebagai mitra strategis utama dalam menjaga keamanan regional. Kuwait pun memiliki perjanjian Defence Cooperation Agreement (DCA) dengan Washington, yang menjamin dukungan pertahanan terhadap ancaman eksternal. Ketergantungan ini juga terlihat dalam pengadaan alutsista dan teknologi militer, yang sebagian besar bersumber dari Amerika Serikat.
“Secara keamanan, negara-negara Arab sangat bergantung pada proteksi AS,” ujar Sya’roni.
Serangan Balasan Iran dan Isu Kedaulatan
Serangan balasan Iran yang menyasar pangkalan militer AS di wilayah negara Arab memperumit situasi. Bagi negara tuan rumah, tindakan tersebut dipandang sebagai pelanggaran kedaulatan, meski target utamanya adalah instalasi militer Amerika.
Tak heran jika Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania menandatangani pernyataan bersama dengan Amerika Serikat. Dalam dokumen tersebut mereka menegaskan komitmen membela kedaulatan dan hak mempertahankan diri.
“Kami bersatu dalam membela warga negara, kedaulatan, dan wilayah kami, dan menegaskan kembali hak kami untuk membela diri dalam menghadapi serangan-serangan ini,” demikian bunyi pernyataan bersama yang dirilis pemerintah AS.
Timur Tengah di Titik Balik
Situasi ini memperlihatkan realitas baru geopolitik Timur Tengah: solidaritas regional tidak lagi berdiri semata atas identitas, tetapi juga atas kepentingan strategis dan kalkulasi keamanan nasional.
Di satu sisi, negara-negara Arab menghadapi tekanan opini publik yang sensitif terhadap konflik Palestina dan Iran. Di sisi lain, mereka tidak dapat mengabaikan payung keamanan Amerika Serikat yang selama ini menjadi penopang stabilitas domestik.
Eskalasi ini pun menandai babak baru persaingan pengaruh di kawasan. Jika konflik terus meluas, bukan hanya hubungan Iran–Israel yang dipertaruhkan, tetapi juga keseimbangan aliansi di Timur Tengah—antara kepentingan keamanan, diplomasi perdamaian, dan tekanan geopolitik global.
(EL/Sumber: CNN Indonesia)






