Sulut1news.com, London – Legenda musik dunia asal Inggris, Sir Rod Stewart, meluapkan kemarahannya terhadap pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai meremehkan pengorbanan pasukan Inggris dan sekutu NATO dalam perang Afghanistan. Melalui sebuah video emosional yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Stewart secara terbuka mendesak pemerintah Inggris agar menuntut permintaan maaf resmi dari Trump.
Kecaman ini muncul menyusul pidato Trump di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, yang memicu gelombang kritik internasional. Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat “tidak pernah membutuhkan” sekutu NATO dan menuding pasukan negara-negara sekutu hanya berada “sedikit di belakang dan jauh dari garis depan” selama operasi militer di Afghanistan.
Pernyataan tersebut langsung dianggap menghina dan menyesatkan, mengingat besarnya pengorbanan personel militer dari berbagai negara NATO, termasuk Inggris.
“Ini Tak Tertahankan”
Dalam video berdurasi beberapa menit, Sir Rod Stewart—yang juga menyandang gelar ksatria kerajaan—menyampaikan kemarahannya dengan nada tegas. Ia menegaskan bahwa sebagai seseorang yang lahir tepat setelah Perang Dunia II, ia memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap angkatan bersenjata yang mempertaruhkan nyawa demi kebebasan.
“Saya sangat sedih membaca pernyataan Trump, seorang penghindar wajib militer, yang mengkritik pasukan kita di Afghanistan seolah-olah mereka tidak berada di garis depan,” ujar Stewart.
“Kita kehilangan lebih dari 400 prajurit Inggris. Pikirkan orang tua mereka, keluarga mereka. Dan dia menyiratkan mereka seperti pengecut. Ini benar-benar tak tertahankan.”
Penyanyi legendaris yang dikenal lewat lagu Maggie May itu bahkan secara langsung menyebut nama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan tokoh politik Nigel Farage, mendesak mereka untuk menekan Trump agar menyampaikan permintaan maaf.
NATO Menjawab Panggilan Amerika
Banyak pengamat menilai komentar Trump tidak hanya ofensif, tetapi juga mengabaikan fakta sejarah penting. Setelah serangan teroris 11 September 2001, Amerika Serikat menjadi negara pertama yang mengaktifkan Pasal 5 Piagam NATO, yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.
Sebagai respons, negara-negara sekutu NATO—termasuk Inggris—mengirimkan pasukan mereka ke Afghanistan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat. Ribuan prajurit dari berbagai negara bertugas di garis depan, dan ratusan di antaranya gugur dalam konflik yang berlangsung lebih dari dua dekade.
Riwayat Trump Disorot
Kritik terhadap Trump juga kembali menyoroti riwayat pribadinya terkait wajib militer. Trump diketahui tidak pernah bertugas dalam Perang Vietnam setelah mendapatkan pengecualian medis karena alasan “taji tulang” (bone spurs), yang kemudian oleh sejumlah pihak disebut sebagai dalih yang dipertanyakan.
Fakta tersebut membuat komentar Trump dinilai semakin tidak pantas, mengingat ia mengkritik prajurit yang benar-benar bertempur dan kehilangan nyawa.
Respons Pemerintah Inggris
Perdana Menteri Keir Starmer telah menanggapi pernyataan Trump dengan menyebutnya sebagai komentar yang “menghina dan terus terang mengerikan.” Namun hingga kini, pemerintah Inggris belum secara resmi menuntut permintaan maaf dari mantan presiden AS tersebut.
Sejumlah kalangan menilai London perlu mengambil sikap yang lebih tegas, bukan semata untuk mendapatkan permintaan maaf—yang dinilai kecil kemungkinannya—tetapi untuk menegaskan bahwa pengorbanan prajurit sekutu tidak boleh direndahkan oleh siapa pun.
Kecaman dari Berbagai Kalangan
Selain Sir Rod Stewart, kecaman juga datang dari organisasi veteran, analis keamanan, serta tokoh masyarakat di Inggris dan negara-negara anggota NATO lainnya. Mereka menegaskan bahwa setiap prajurit yang gugur dalam misi internasional layak mendapatkan penghormatan tertinggi.
Seorang perwakilan organisasi veteran Inggris menyatakan,
“Setiap nyawa yang dikorbankan demi perdamaian dan keamanan global adalah pengorbanan yang mulia. Merendahkan jasa mereka adalah tindakan yang tidak dapat diterima, terlebih jika datang dari seseorang yang tidak pernah merasakan beban dinas militer.
Redaksi: Sulut1news.com
Sumber: Video Instagram Sir Rod Stewart, Pidato Donald Trump di Davos, Pernyataan Resmi Pemerintah Inggris






