Sulut1news.com, Makassar – Kunjungan kerja Gubernur Sulawesi Utara, , ke Provinsi Sulawesi Selatan tak sekadar agenda formal pemerintahan. Di tengah padatnya jadwal, ia memilih menyapa langsung denyut generasi muda melalui dialog kepemudaan bersama (GMKI) Cabang Makassar—sebuah forum yang berubah menjadi ruang refleksi, inspirasi, sekaligus tantangan bagi calon pemimpin masa depan.
Dalam suasana hangat namun penuh makna, Yulius tampil bukan hanya sebagai kepala daerah, melainkan sebagai mentor yang membagikan kisah perjalanan hidupnya—dari dunia militer hingga kini memimpin Sulawesi Utara. Baginya, perjalanan tersebut bukan sekadar karier, melainkan proses pembentukan karakter yang ditempa oleh disiplin, loyalitas, dan semangat pengabdian tanpa kompromi.
“Bukan soal di mana kita ditempatkan, tetapi bagaimana kita memberi arti di setiap penugasan,” tegas Yulius di hadapan ratusan kader GMKI yang memadati ruang dialog.
Pengabdian sebagai Identitas, Bukan Sekadar Pilihan
Berbeda dari narasi motivasi yang klise, Yulius mengajak mahasiswa melihat pengabdian sebagai identitas diri. Ia menekankan bahwa generasi muda tidak boleh terjebak pada orientasi jabatan atau popularitas, melainkan harus membangun fondasi integritas dan kontribusi nyata sejak dini.
Menurutnya, Indonesia ke depan membutuhkan figur-figur muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara mental dan tangguh dalam menghadapi tekanan zaman.
Filosofi Sun Tzu untuk Generasi Digital
Menariknya, dalam dialog tersebut Yulius mengangkat pemikiran klasik dari untuk menjawab tantangan modern. Ia menilai bahwa filosofi lama justru semakin relevan di tengah kompetisi global yang semakin kompleks.
“Mengenal diri sendiri dan memahami tantangan adalah kunci. Di era sekarang, ‘musuh’ itu bisa berupa ketertinggalan, kemalasan, atau bahkan disrupsi teknologi,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan filosofi tersebut dengan realitas generasi digital saat ini—di mana arus informasi yang cepat menuntut kemampuan adaptasi, literasi, dan keteguhan karakter.
GMKI dan Peran Strategis Pemuda
Forum ini juga menegaskan kembali posisi GMKI sebagai wadah strategis pembentukan karakter kepemimpinan. Yulius mendorong organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga laboratorium kepemimpinan yang melahirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Ia menilai, keterlibatan aktif mahasiswa dalam organisasi akan menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional.
Tantangan Nyata Menuju Indonesia Emas 2045
Mengakhiri dialog, Yulius melemparkan “tantangan terbuka” kepada para kader GMKI Makassar: menjadi generasi yang tidak sekadar mengikuti arus, tetapi mampu menciptakan perubahan.
Momentum menuju Indonesia Emas 2045, menurutnya, bukanlah sesuatu yang datang secara otomatis, melainkan harus dipersiapkan dengan kerja keras, kompetensi, dan visi yang jelas sejak sekarang.
“Jangan tunggu masa depan datang. Kalianlah yang harus menjemput dan membentuknya,” pungkasnya.
Kegiatan ini berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi, menunjukkan bahwa semangat perubahan di kalangan generasi muda masih menyala—tinggal bagaimana diarahkan menjadi energi pembangunan yang nyata.
(EL)






