Sulut1news.com, Jakarta, 23 Januari 2026 – Ketegangan geopolitik di kawasan Asia kembali meningkat setelah Angkatan Udara Bela Diri Jepang (ASDF) melakukan tindakan pencegatan terhadap formasi pesawat militer Rusia yang meliputi pesawat pengebom strategis Tu-95MS yang memiliki kemampuan membawa senjata nuklir. Insiden ini terjadi saat armada udara Rusia mendekati ruang udara Jepang, dengan Moskow menyatakan penerbangan dilakukan di atas perairan netral Laut Jepang (Laut Timur bagi Korea Selatan).
Formasi Rusia Terbang Lebih dari 11 Jam, Dikawal Jet Tempur Canggih
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi bahwa misi penerbangan yang dipimpin oleh Tu-95MS tersebut telah direncanakan sebelumnya dan berlangsung selama lebih dari 11 jam. Pesawat pengebom strategis tersebut dikawal oleh jet tempur Su-35S dan Su-30SM, dengan klaim bahwa seluruh operasional dilakukan sesuai dengan aturan internasional penggunaan ruang udara, seperti yang dikutip dari Newsweek.
“Operasional pesawat kita dilakukan dengan kepatuhan ketat terhadap peraturan internasional yang berlaku,” jelas pihak berwenang Rusia.
Jepang Sebut Sebagai “Unjuk Kekuatan”, Khawatir Koordinasi Rusia-China
Kantor Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang mengkonfirmasi insiden dan menyatakan akan tetap menjaga kewaspadaan tinggi. Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menyoroti kapasitas nuklir Tu-95MS dan mengingatkan akan patroli udara bersama Rusia-China yang dilakukan di dekat wilayah Jepang pada bulan Desember lalu.
“Ini tidak bisa dilihat sebagai apa pun selain unjuk kekuatan terhadap negara kita,” tegas Koizumi dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa koordinasi strategis antara Rusia dan China telah menimbulkan “kekhawatiran pertahanan yang kuat” bagi Jepang serta kawasan Indo-Pasifik secara luas.
Dalam tanggapan cepat, ASDF mengerahkan jet tempur dari Pasukan Pertahanan Udara Pusat dan beberapa unit lainnya, sekaligus menerapkan langkah-langkah zona identifikasi pertahanan udara secara ketat. “Kepada seluruh anggota Angkatan Udara Bela Diri yang secara profesional melindungi wilayah udara negara kita siang dan malam, terima kasih!” ucap Koizumi.
Kapasitas Nuklir Tu-95MS Menjadi Titik Perhatian
Data dari Nuclear Information Project pada Federasi Ilmuwan Amerika menunjukkan bahwa setiap pesawat Tu-95MS mampu membawa antara 6 hingga 14 rudal jelajah bersenjata nuklir. Selain itu, jenis pesawat ini juga telah digunakan oleh Rusia untuk meluncurkan serangan konvensional terhadap Ukraina selama perang yang masih berlangsung.
Latar Belakang Ketegangan: Sengketa Pulau dan Aliansi AS-Jepang
Meskipun fokus pada konflik di Ukraina, Rusia tetap mempertahankan kehadiran militer signifikan di Wilayah Timur Jauh yang berhadapan langsung dengan Jepang. Ketegangan kedua negara juga diperparah oleh sengketa kedaulatan atas empat pulau di kepulauan Kuril yang kini berada di bawah administrasi Rusia.
Selain itu, pengerahan militer Rusia di kawasan Pasifik juga dipandang sebagai tanggapan terhadap aliansi Amerika Serikat-Jepang, di mana Jepang menampung sekitar 60.000 tentara AS beserta peralatan militer canggih seperti sistem rudal – hal yang terus menjadi perhatian bagi Moskow.
Redaksi Sulut1News
Sumber: CNBC Indonesia






