Sulut1news.com, Manado, 12 Januari 2026 | 22.30 WITA
Situasi Iran semakin memanas dengan pemadaman internet nasional yang telah berlangsung lebih dari 84 jam, melonjaknya jumlah korban tewas dalam gelombang protes, hingga ancaman geopolitik di Selat Hormuz yang mengancam stabilitas energi global. Berikut ringkasan lengkap perkembangan terkini, seperti yang dihimpun Sulut1news.com dari berbagai sumber terpercaya:
1. PEMADAMAN INTERNET MELEWATI 84 JAM
Pembatasan akses internet berskala nasional telah berlangsung lebih dari tiga setengah hari. Lembaga pemantau Netblocks mengonfirmasi bahwa pemadaman masih berlangsung hingga awal pekan ini, dengan klaim dari aktivis bahwa langkah ini digunakan sebagai alat penindakan.
“Meskipun demikian, akses masih dapat ditembus melalui radio gelombang pendek, jaringan seluler perbatasan, layanan satelit Starlink, dan telepon satelit,” ujar pernyataan Netblocks yang dikutip AFP.
2. JUMLAH KORBAN TEWAS CAPAI 544 ORANG
Kelompok hak asasi manusia berbasis AS, HRANA, melaporkan sedikitnya 544 orang tewas dalam protes yang berlangsung 15 hari terakhir. Angka tersebut mencakup 483 demonstran, 8 anak di bawah umur, 5 warga sipil non-demonstran, 47 anggota aparat keamanan, dan 1 jaksa pemerintah.
Selain itu, lebih dari 10.681 orang telah ditahan. Perlu dicatat bahwa laporan ini belum dapat diverifikasi secara independen.
3. EKONOMI IRAN TERJATUH PARAH
Perekonomian negara tersebut terpuruk dengan merosotnya nilai tukar rial (hilang sekitar 40% sejak perang 12 hari pada Juni 2025), inflasi yang mencapai 42,2% pada Desember, dan kenaikan harga pangan hingga 72% secara tahunan.
PDB diperkirakan akan menyusut 1,7% pada 2025 dan 2,8% pada 2026 menurut Bank Dunia. Presiden Masoud Pezeshkian berjanji melakukan reformasi mendasar, meskipun kebijakan masih dihinggapi ketidakstabilan dengan pengunduran diri gubernur bank sentral dan pemakzulan Menteri Ekonomi.
4. CHINA MENOLAK CAMPUR TANGAN ASING
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan penolakan Beijing terhadap segala bentuk campur tangan dalam urusan internal Iran, menyusul ancaman intervensi militer dari Presiden AS Donald Trump.
“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah,” tegasnya dalam konferensi pers, seperti dikutip AFP.
5. ANCAMAN DI SELAT HORMUZ
Selat Hormuz, jalur yang digunakan untuk mengalirkan 31% minyak mentah global (sekitar 13 juta barel per hari pada 2025), kembali menjadi titik rawan akibat kemungkinan tindakan AS. Analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat membuat Iran mengganggu lalu lintas di jalur vital tersebut.
“Gangguan di sini bisa memicu krisis energi global jika rezim Iran merasa terpojok,” kata Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic.
6. PUTRA SHAH IRAN BUKA SUARA
Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi Islam 1979, mengangkat suara dari pengasingannya di AS. Melalui video di platform X, ia menyatakan kesiapan memimpin transisi menuju sistem sekuler dan demokratis serta menyerukan akhir pemerintahan ulama.
Beberapa demonstran terlihat meneriakkan slogan mendukungnya, meskipun dukungan nyata di dalam negeri sulit diukur.
7. KONDISI WNI DI IRAN RELATIF AMAN
Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI Tehran memastikan bahwa kondisi WNI di Iran relatif kondusif, terutama di kota-kota simpul komunitas seperti Qom dan Isfahan yang didominasi oleh pelajar dan mahasiswa.
Langkah evakuasi belum diperlukan, namun KBRI telah melakukan persiapan kontigensi. WNI diimbau meningkatkan kewaspadaan, menghindari kerumunan, dan menghubungi hotline KBRI Tehran (+98 991 466 8845 / +98 902 466 8889) atau Hotline Kemlu RI (+62 812-9007-0027) jika terjadi keadaan darurat. Bagi yang berencana berpergian ke Iran, disarankan untuk menunda keberangkatan.
Oleh: Redaksi Sulut1news.com
Manado, 12 Januari 2026 | 22.30 WITA
Sumber CNBC Indonesia






