Internasional

Ukraina Jadi Raja Bantuan AS, Cairkan US$6,75 Miliar, Tapi Dukungan Militer Tak Sampai Separuh Warga Amerika

80
×

Ukraina Jadi Raja Bantuan AS, Cairkan US$6,75 Miliar, Tapi Dukungan Militer Tak Sampai Separuh Warga Amerika

Sebarkan artikel ini

Sulut1News.com, Jakarta – Ukraina kembali menempati posisi teratas sebagai negara penerima bantuan luar negeri Amerika Serikat (AS) terbesar sepanjang tahun fiskal 2025. Namun, di balik besarnya aliran dana tersebut, muncul kontras menarik: dukungan masyarakat Amerika terhadap bantuan militer untuk negara lain ternyata jauh lebih rendah dibandingkan bantuan kemanusiaan.

Data ForeignAssistance.gov yang diolah Visual Capitalist mencatat Amerika Serikat mencairkan bantuan sebesar US$6,75 miliar atau sekitar Rp100 triliun lebih kepada Ukraina sepanjang tahun fiskal 2025.

Posisi Ukraina berada jauh di atas Israel yang menerima sekitar US$3,31 miliar, sementara Yordania berada di urutan ketiga dengan US$1,65 miliar.

Besarnya angka tersebut menjadikan Ukraina sebagai tujuan terbesar aliran bantuan luar negeri Washington pada periode tersebut.

Yang perlu dicatat, tahun fiskal Amerika Serikat berbeda dengan tahun kalender. Tahun fiskal 2025 berlangsung sejak 1 Oktober 2024 hingga 30 September 2025.

Artinya, angka US$6,75 miliar tersebut merupakan dana yang benar-benar dicairkan dalam periode tersebut, bukan semata-mata bantuan baru yang diputuskan sepanjang 2025.

Afrika Kuasai Peringkat Berikutnya

Setelah Ukraina, Israel dan Yordania, daftar penerima bantuan terbesar AS justru didominasi negara-negara Afrika.

Baca Juga:  Serangan AS-Israel ke Iran Ubah Peta Loyalitas Timur Tengah

Ethiopia menjadi penerima terbesar dari benua Afrika. Negara tersebut disusul Republik Demokratik Kongo dan Nigeria.

Sebanyak tujuh negara Afrika masuk dalam jajaran 10 besar penerima bantuan AS.

Namun, tidak satu pun negara di luar tiga besar mencatat pencairan bantuan mencapai US$1 miliar.

Indonesia juga tidak masuk dalam daftar 20 besar penerima bantuan luar negeri AS pada tahun fiskal tersebut.

Ukraina dan Warisan Perang Rusia

Besarnya bantuan untuk Ukraina tidak dapat dilepaskan dari perang yang pecah setelah Rusia melancarkan invasi pada Februari 2022.

Sejak saat itu, Washington menjadi salah satu pendukung utama Kyiv. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa senjata, tetapi juga mencakup pelatihan, dukungan intelijen, bantuan ekonomi serta program kemanusiaan.

Namun terdapat satu hal penting yang kerap luput dalam membaca angka bantuan tahunan.

Dana yang dicairkan pada 2025 tidak selalu berarti dana tersebut baru disetujui pada 2025.

Sebagian anggaran telah disetujui pada periode sebelumnya dan baru dicairkan ketika program berjalan, kontrak direalisasikan atau bantuan dikirimkan.

Kondisi ini menjadi penting karena pergantian pemerintahan di Washington pada Januari 2025 tidak serta-merta menghentikan seluruh aliran dana yang telah dianggarkan sebelumnya.

Baca Juga:  SERANGAN UDARA MILITER MYANMAR HANTAM KAMP PENGUNGSI DI KACHIN, 21 ORANG MENEWASKAN

Dengan kata lain, angka pencairan US$6,75 miliar mencerminkan uang yang benar-benar keluar dalam satu tahun fiskal, bukan ukuran tunggal mengenai seberapa besar komitmen baru pemerintahan AS terhadap Ukraina.

Ada Kontras dengan Sikap Publik Amerika

Di sinilah muncul fakta yang cukup menarik.

Besarnya bantuan luar negeri AS tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat dukungan masyarakat Amerika terhadap seluruh jenis bantuan.

Survei Pew Research Center yang dipublikasikan pada Mei 2025 menunjukkan masyarakat Amerika jauh lebih mendukung bantuan yang bersifat kemanusiaan dibandingkan bantuan militer.

Sebanyak 83 persen orang dewasa AS mendukung bantuan obat-obatan dan perlengkapan medis untuk negara berkembang.

Dukungan terhadap bantuan makanan dan pakaian bahkan mencapai 78 persen.

Sementara itu, bantuan untuk pembangunan ekonomi memperoleh dukungan 63 persen dan bantuan untuk memperkuat demokrasi sebesar 61 persen.

Namun ketika menyangkut bantuan untuk memperkuat militer negara lain, dukungannya turun menjadi hanya 39 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan adanya jarak antara kebijakan bantuan luar negeri Washington dengan persepsi sebagian masyarakat Amerika.

Bagi publik AS, membantu masyarakat menghadapi krisis kemanusiaan tampaknya jauh lebih mudah diterima dibandingkan menggelontorkan uang untuk memperkuat kemampuan militer negara lain.

Baca Juga:  Serangan Militer AS di Nigeria: Peringatan Keras bagi Teroris ISIS

Angka Besar Ukraina Punya Makna Politik

Karena itu, posisi Ukraina sebagai penerima bantuan terbesar AS tidak hanya berbicara mengenai nominal uang.

Angka tersebut sekaligus menggambarkan besarnya kepentingan strategis Washington dalam perang Rusia-Ukraina.

Di satu sisi, Ukraina membutuhkan dukungan untuk mempertahankan diri dari Rusia. Di sisi lain, pemerintah AS harus berhadapan dengan pertanyaan domestik mengenai seberapa jauh Washington harus menggunakan sumber daya negaranya untuk konflik di luar negeri.

Perbedaan antara US$6,75 miliar pencairan untuk Ukraina dan 39 persen dukungan publik terhadap bantuan militer luar negeri memperlihatkan bahwa kebijakan bantuan AS berada di antara kepentingan geopolitik dan pertimbangan publik dalam negeri.

Dengan demikian, daftar penerima bantuan luar negeri AS tahun fiskal 2025 bukan sekadar daftar negara yang menerima uang Washington.

Di balik angka tersebut terdapat pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan Amerika Serikat bersedia membayar mahal untuk mempertahankan kepentingan strategisnya di luar negeri, sementara dukungan rakyatnya terhadap bantuan militer justru tidak dominan?

Sulut1News.com