Nasional

TNI AU Tambah Kekuatan Udara, 52 Pesawat Dikerahkan Hadapi Karhutla di Enam Provinsi

44
×

TNI AU Tambah Kekuatan Udara, 52 Pesawat Dikerahkan Hadapi Karhutla di Enam Provinsi

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Pemerintah memperkuat operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia dengan menambah armada udara. Kali ini, lima pesawat TNI Angkatan Udara (TNI AU) diterbangkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Tambahan kekuatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah mempercepat penanganan karhutla, terutama di wilayah Kalimantan yang kini menghadapi ancaman kebakaran di sejumlah titik.

Lima pesawat TNI AU itu dikerahkan untuk memperkuat sekitar 30 armada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah beroperasi di tiga provinsi di Kalimantan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, TNI AU juga menyiagakan sejumlah pesawat lainnya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Armada tersebut dipersiapkan untuk bergerak sewaktu-waktu mengikuti kebutuhan BNPB dan perkembangan situasi di lapangan.

“Penambahan pesawat ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan, mengurangi dampak kabut asap, serta melindungi keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan,” ujar Teddy melalui akun Instagram @sekretariat.kabinet, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga:  Ribuan Buruh Siap "Kepung" Istana & DPR: Protes Besar-Besaran Lawan UMP Jakarta 2026 yang Dinilai "Anomali Ekonomi"

52 Pesawat Dikerahkan di Enam Provinsi

Skala operasi penanganan karhutla saat ini cukup besar. Berdasarkan laporan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, sebanyak 52 pesawat telah dikerahkan untuk mendukung operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi yang dinilai memiliki potensi kebakaran tinggi.

Enam provinsi tersebut yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 pesawat beroperasi di wilayah Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya dikerahkan di Sumatra.

Besarnya kekuatan udara yang diterjunkan menunjukkan penanganan karhutla tidak lagi hanya mengandalkan operasi pemadaman di darat. Pemerintah juga memperkuat kemampuan respons dari udara untuk menghadapi kebakaran yang terjadi di wilayah luas dan sulit dijangkau.

Titik Api Muncul di Sejumlah Daerah

Laporan kejadian bencana periode 20-21 Agustus 2026 menunjukkan kebakaran hutan dan lahan masih muncul di sejumlah daerah.

Baca Juga:  RUPIAH REKOR TERLEMAH DI LEVEL Rp16.945/US$, MESKI DOLAR GLOBAL TERKOREKSI

Di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, kebakaran dilaporkan terjadi di Desa Lalang, Kecamatan Manggar, serta Desa Lenggang dan Desa Lingang.

Kebakaran juga terjadi di Petak 102 Aren, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso; Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar; serta Desa Mategal, Kecamatan Parang, dan Desa Giripurno, Kabupaten Magetan.

Sementara di Kalimantan Timur, kebakaran dilaporkan terjadi di wilayah Tanah Gogot, Kecamatan Batu Sopang, dan Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser.

Di Kabupaten Kutai Kartanegara, sejumlah titik juga dilaporkan terdampak, antara lain Desa Loa Gagak, Kecamatan Loa Kulu; Kelurahan Spontan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong; Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga; Desa Kayu Bata, Kecamatan Muara Muntai; Kelurahan Muara Kembang, Kecamatan Muara Jawa; serta Desa Kota Bangun Hulu, Kecamatan Kota Bangun.

Selain wilayah-wilayah tersebut, potensi dan kejadian karhutla juga masih menjadi perhatian pemerintah di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Baca Juga:  Menteri Keuangan Temukan Kejanggalan Harga Impor Pompa Air: Ada Apa di Balik Nilai Murah

Pemerintah Siapkan Respons Berlapis

Penambahan pesawat TNI AU sekaligus kesiapsiagaan armada di Jakarta menunjukkan pemerintah menyiapkan pola respons yang lebih fleksibel. Pesawat yang belum diterjunkan dapat segera digerakkan apabila terjadi peningkatan titik api atau kondisi darurat di wilayah tertentu.

Langkah ini juga menjadi penting karena dampak karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan ekosistem. Kebakaran dalam skala besar berpotensi menghasilkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, transportasi, hingga perekonomian daerah.

Dengan 52 pesawat yang kini dikerahkan di enam provinsi, pemerintah berupaya memastikan penanganan karhutla dilakukan secara terkoordinasi antara BNPB, TNI AU, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya.

Fokusnya bukan semata-mata memadamkan api, tetapi juga menekan penyebaran asap dan mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

(*/Redaksi)