Internasional

Pentagon Kejar Restu Kongres untuk Anggaran Pertahanan US$1,5 Triliun, Legislator Soroti Waktu yang Mepet

47
×

Pentagon Kejar Restu Kongres untuk Anggaran Pertahanan US$1,5 Triliun, Legislator Soroti Waktu yang Mepet

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Washington – Pentagon meningkatkan lobi ke Kongres Amerika Serikat untuk mengamankan persetujuan atas proposal anggaran pertahanan Tahun Fiskal 2027 yang mencapai sekitar US$1,5 triliun.

Nilai tersebut menjadi salah satu proposal anggaran pertahanan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Donald Trump mengusulkan sekitar US$1,15 triliun melalui anggaran diskresioner dan tambahan US$350 miliar melalui mekanisme rekonsiliasi anggaran.

Namun, upaya Pentagon tersebut menghadapi tantangan di Capitol Hill. Sejumlah senator Partai Republik menilai pendekatan intensif kepada anggota Kongres dilakukan relatif terlambat, sementara proses pembahasan anggaran sudah memasuki fase krusial menjelang dimulainya tahun fiskal baru pada 1 Oktober.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat senior Pentagon menggelar pengarahan tertutup dengan anggota Kongres untuk menjelaskan kebutuhan pendanaan serta prioritas pertahanan Amerika.

Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg, Comptroller Pentagon Jules Hurst dan Wakil Ketua Joint Chiefs of Staff Christopher Mahoney termasuk pejabat yang memberikan penjelasan kepada anggota Kongres.

Senator Republik Mike Rounds mengatakan pengarahan tersebut membantu anggota parlemen memahami kebutuhan Pentagon secara lebih mendalam.

Menurut Rounds, persoalan utama yang harus diperhitungkan pemerintah adalah kebutuhan memperoleh 60 suara di Senat untuk meloloskan anggaran melalui jalur alokasi reguler.

“Diskusi hari ini telah banyak membantu,” ujar Rounds kepada wartawan di Capitol Hill, Kamis.

Baca Juga:  Trump Buka Opsi “Pengayaan Simbolis” Iran, Namun Skenario Militer Termasuk Targetkan Khamenei Ikut Disiapkan

Senator Tim Sheehy, mantan anggota Navy SEAL, juga menilai pengarahan tertutup tersebut berjalan baik. Namun, ia mempertanyakan mengapa pendekatan semacam itu tidak dilakukan lebih awal.

Menurut Sheehy, membangun dukungan bipartisan membutuhkan waktu, terutama karena sebagian anggota Partai Demokrat masih skeptis terhadap kebijakan militer pemerintahan Trump terkait konflik dengan Iran.

“Menurut saya, akan lebih baik jika kita memulainya tujuh atau delapan bulan yang lalu untuk membangun dan memperkuat koalisi tersebut,” ujarnya.

Pentagon Hadapi Persoalan Waktu

Senator Mark Kelly, mantan pilot Angkatan Laut AS, menggambarkan situasi pembahasan anggaran saat ini sebagai proses menentukan prioritas karena waktu yang tersedia semakin terbatas.

Menurutnya, daftar kebutuhan Pentagon sangat luas, mulai dari sistem persenjataan hingga berbagai program pertahanan lainnya.

Karena itu, pemerintah kini berupaya memusatkan perhatian pada sejumlah kebutuhan yang dianggap paling mendesak.

Senator Deb Fischer dari Partai Republik juga menilai pengarahan Pentagon kepada Kongres tetap penting karena memberikan informasi mengenai ancaman keamanan serta kebutuhan militer Amerika.

Ia meminta Pentagon menyampaikan secara jelas daftar prioritas pendanaan kepada Kongres sehingga anggota parlemen dapat menentukan program yang membutuhkan dukungan anggaran jangka panjang.

Anggaran Tembus US$1,5 Triliun

Proposal pemerintahan Trump untuk FY2027 mencakup sekitar US$1,1 triliun anggaran dasar untuk Departemen Pertahanan, ditambah US$350 miliar dana tambahan melalui mekanisme rekonsiliasi.

Baca Juga:  Konflik Memanas: Qatar Jatuhkan Pesawat Tempur Iran di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Jika seluruh komponen tersebut dihitung, total sumber daya pertahanan yang diminta mencapai sekitar US$1,5 triliun. Pemerintah AS menyebut anggaran tersebut diperlukan untuk memperkuat kesiapan militer, meningkatkan kapasitas industri pertahanan, memperkuat persenjataan serta mendanai sejumlah program strategis seperti sistem pertahanan rudal Golden Dome.

Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut permintaan tersebut akan meningkatkan belanja pertahanan secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi level tertinggi jika disesuaikan dengan inflasi.

Namun, mekanisme pembiayaannya menjadi salah satu persoalan utama.

Dana sekitar US$350 miliar yang diajukan melalui rekonsiliasi tidak memerlukan ambang 60 suara di Senat seperti proses alokasi reguler. Sebaliknya, bagian anggaran reguler membutuhkan dukungan bipartisan untuk dapat melewati Senat.

Ditambah Permintaan Dana Perang Iran

Tekanan terhadap proses penganggaran semakin besar setelah Gedung Putih mengajukan permintaan dana tambahan sekitar US$87,6 miliar pada Juni.

Dari jumlah tersebut, sekitar US$67,1 miliar dialokasikan untuk Departemen Pertahanan. Dana tersebut antara lain ditujukan untuk kebutuhan operasi militer, kesiapan pasukan, serta penggantian peralatan dan amunisi yang digunakan atau rusak dalam konflik.

Permintaan tersebut datang di tengah meningkatnya biaya operasi militer AS terkait perang dengan Iran. Reuters sebelumnya melaporkan Pentagon memperkirakan biaya perang telah mencapai US$37,5 miliar hingga Juli 2026.

Baca Juga:  Tanker 'Grinch' Diduga Armada Bayangan Rusia Disita AL Prancis, Pakai Bendera Palsu untuk Menyiasati Sanksi Minyak

Dengan demikian, Kongres kini menghadapi tiga lapisan kebutuhan pendanaan pertahanan: anggaran dasar, tambahan US$350 miliar melalui rekonsiliasi, serta permintaan dana tambahan untuk membiayai kebutuhan terkait operasi militer.

Kongres Belum Sepenuhnya Sepakat

Besarnya angka yang diajukan tidak otomatis menjamin seluruh permintaan Pentagon akan disetujui.

CSIS mencatat bahwa proses pengesahan anggaran FY2027 masih menghadapi ketidakpastian. Selain perbedaan antara Partai Republik dan Demokrat, terdapat pula perdebatan di internal Partai Republik mengenai besarnya pengeluaran pemerintah dan dampaknya terhadap defisit.

Pentagon karena itu mempercepat komunikasi dengan anggota Kongres untuk menjelaskan prioritasnya dan membangun dukungan politik sebelum tenggat penganggaran semakin dekat.

Bagi pemerintahan Trump, pertarungan anggaran ini bukan hanya soal besarnya dana pertahanan, tetapi juga mengenai bagaimana Amerika Serikat membiayai modernisasi militernya di tengah konflik yang sedang berlangsung dan meningkatnya kebutuhan persenjataan.

Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Kongres.

Dengan nilai mencapai sekitar US$1,5 triliun, proposal FY2027 kini menjadi salah satu ujian terbesar bagi pemerintahan Trump dalam membangun dukungan Kongres terhadap agenda pertahanan dan keamanan nasionalnya.

Redaksi Sulut1News