Internasional

DIALOG NUKLIR IRAN-AS KEMBALI BERJALAN DI OMAN: FORMAT BARU, TANTANGAN KEPERCAYAAN YANG MEMBARA

88
×

DIALOG NUKLIR IRAN-AS KEMBALI BERJALAN DI OMAN: FORMAT BARU, TANTANGAN KEPERCAYAAN YANG MEMBARA

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Muscat/Oman, Jumat (6/2/2026) – Setelah masa jeda yang penuh ketegangan, Iran dan Amerika Serikat akhirnya membuka kembali jalur komunikasi terkait program nuklir Teheran melalui perundingan tidak langsung di Oman. Pertemuan yang diadakan di sebuah istana pinggiran ibu kota Muscat ini menjadi tonggak penting, meskipun kedua delegasi tidak bertemu secara langsung dan hanya berkomunikasi melalui Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebutkan bahwa pembicaraan yang berlangsung hari ini merupakan “awal yang sangat baik”, meskipun fokus utama bukan pada substansi teknis program nuklir, melainkan mencari format dan mekanisme untuk membuka kembali negosiasi lanjutan.

“Situasi ini mirip tahap awal dialog yang pernah kita jalani setahun lalu, sebelum perang dengan Israel pada Juni silam. Sekarang kita harus mulai dari awal, dan hambatan terbesar yang kita hadapi adalah krisis kepercayaan yang sudah mengakar antara kedua negara,” jelas Araghchi dalam wawancara langsung di televisi pemerintah Iran dari Muscat, seperti yang dilansir The Associated Press.

Baca Juga:  AS–Iran Bertemu di Islamabad, Damai atau Eskalasi?

Ia menegaskan bahwa penyelesaian masalah ketidakpercayaan menjadi prasyarat sebelum memasuki tahap perundingan lebih lanjut. “Tanpa membangun dasar kepercayaan yang kuat, kita tidak akan bisa membahas hal-hal yang lebih mendalam,” tambahnya.

DELEGASI AS DIPIMPIN KUSHNER, DENGAN HADIRNYA KOMANDAN MILITER

Dari pihak Amerika Serikat, delegasi dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner – menantu Presiden Donald Trump. Hingga saat ini, Washington belum merilis pernyataan resmi terkait hasil pembicaraan.

Namun yang menarik adalah kehadiran Laksamana Angkatan Laut Brad Cooper, Kepala Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), yang dinilai sebagai sinyal jelas bahwa opsi militer masih menjadi pilihan jika jalur diplomasi tidak memberikan hasil. Saat ini, AS telah memasang kapal induk USS Abraham Lincoln beserta gugus armada dan tambahan jet tempur di kawasan Teluk, yang secara teknis memberikan kapasitas untuk melancarkan serangan lebih lanjut.

Baca Juga:  PENTAGON KIRIM KAPAL INDUK KEDUA KE TIMUR TENGAH, TRUMP BERI TENGGAT WAKTU SEBULAN UNTUK PERCAKAPAN NUKLIR IRAN

Ketegangan militer di kawasan memang belum surut. Beberapa pekan terakhir, pasukan AS melaporkan telah menembak jatuh drone Iran di dekat kapal induk tersebut, sementara Iran mencoba menghentikan kapal berbendera AS di Selat Hormuz – jalur pelayaran kritis yang menjadi tulang punggung perdagangan minyak global.

PROPOSAL NEGARA ARAB: HENTIKAN PENGAayaan URANIUM SAMPAI TIGA TAHUN

Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi yang menjadi perantara dalam pertemuan ini mengindikasikan bahwa proses negosiasi baru saja dimulai. “Konsultasi hari ini difokuskan pada persiapan kondisi yang tepat untuk melanjutkan kembali negosiasi diplomatik dan teknis, dengan tujuan utama mencapai keamanan dan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan,” ujarnya.

Meskipun Iran bersikeras bahwa pembicaraan hanya menyangkut program nuklirnya, laporan dari Al Jazeera mengungkapkan bahwa sejumlah negara mediator seperti Mesir, Turki, dan Qatar telah mengajukan proposal konkret. Proposal tersebut mencakup tiga poin utama: Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium selama tiga tahun ke depan, mengirimkan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ke luar negeri, serta memberikan jaminan “tidak akan berinisiasi penggunaan rudal balistik”.

Baca Juga:  Pembersihan Elite Militer China Masuk Fase Dramatis: Jenderal Tertinggi Dekan Xi Jinping Diselidiki

Kondisi domestik Iran yang masih bergejolak akibat gelombang protes nasional juga menjadi konteks penting dalam pembicaraan ini. Beberapa pihak berpendapat bahwa situasi dalam negeri bisa memengaruhi dinamika negosiasi Iran di tingkat internasional.

Di sisi lain, negara-negara Arab Teluk menyuarakan kekhawatiran serius bahwa eskalasi militer bisa memicu konflik regional yang melibatkan banyak pihak. “Kita tidak bisa mengabaikan risiko bahwa satu kesalahan kecil bisa membawa kita ke jurang yang dalam,” ujar seorang diplomat dari negara Teluk yang tidak ingin disebutkan namanya.

Redaksi Sulut1News
Sumber: CNBC Indonesia