Sulut1news.com, Jakarta – Tren konsumsi minuman manis di Indonesia kian mengkhawatirkan. Di balik rasa segar dan praktisnya, minuman berpemanis atau sugar sweetened beverages (SSB) diam-diam menjadi penyumbang terbesar lonjakan asupan gula harian masyarakat—bahkan tanpa disadari.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi telah menjelma menjadi isu kesehatan publik yang serius. Dalam dua dekade terakhir, berbagai studi menunjukkan lonjakan signifikan konsumsi minuman manis, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi tertinggi di Asia.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. Zuraidah Nasution, mengungkapkan bahwa minuman manis kini menjadi “sumber tersembunyi” gula yang kerap luput dari perhatian masyarakat.
“Batas aman asupan gula harian hanya sekitar 10 persen dari total kebutuhan energi. Jika kebutuhan 2.000 kalori, maka maksimal sekitar 50 gram atau setara empat sendok makan gula,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Namun realitanya, angka tersebut dengan mudah terlampaui hanya dari konsumsi minuman. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, gula dari minuman saja bisa menyumbang hingga 50 persen dari batas harian yang dianjurkan. Artinya, sebelum mengonsumsi makanan lain, setengah jatah gula harian sudah ‘habis’ lebih dulu.
Gaya Hidup Praktis, Risiko Meningkat
Meningkatnya popularitas minuman kekinian seperti kopi susu, teh manis kemasan, hingga boba menjadi salah satu faktor utama. Ditambah lagi, akses yang semakin mudah—dari minimarket hingga layanan pesan antar—membuat konsumsi minuman manis semakin sulit dikendalikan.
Ironisnya, tidak semua produk mencantumkan informasi kandungan gula secara transparan. Hal ini membuat konsumen kerap tidak menyadari berapa banyak gula yang telah dikonsumsi dalam sehari.
“Ini yang berbahaya. Banyak orang merasa tidak makan manis, padahal minumannya sudah melebihi batas,” jelas Zuraidah.
Kondisi ini turut berkontribusi pada meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan metabolik lainnya yang kini semakin banyak ditemukan pada usia muda.
Dimulai Sejak Dini, Berlanjut Hingga Dewasa
Zuraidah menekankan bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman manis umumnya terbentuk sejak usia anak. Tanpa kontrol yang baik, pola ini akan terbawa hingga dewasa dan semakin sulit diubah.
Karena itu, peran keluarga—terutama orang tua—menjadi kunci dalam membentuk pola konsumsi yang lebih sehat. Membatasi ketersediaan minuman manis di rumah, membiasakan anak minum air putih, serta edukasi membaca label gizi menjadi langkah penting.
Bukan Dilarang, Tapi Dikendalikan
Meski demikian, konsumsi minuman manis tidak harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah pengendalian.
Masyarakat diimbau lebih bijak dalam mengatur asupan gula harian, serta menyeimbangkannya dengan pola hidup sehat—mulai dari konsumsi buah dan sayur, rutin beraktivitas fisik, hingga menjaga kualitas istirahat.
Dengan kesadaran yang lebih tinggi, ancaman “manis yang tersembunyi” ini dapat ditekan, sehingga masyarakat tidak hanya menikmati gaya hidup modern, tetapi juga tetap menjaga kesehatan jangka panjang.
EL






