Manado

Gula Darah Naik Padahal Makan Terjaga? 5 Pemicu yang Sering Tak Disadari

74
×

Gula Darah Naik Padahal Makan Terjaga? 5 Pemicu yang Sering Tak Disadari

Sebarkan artikel ini

Sulut1News, Manado — Menjaga pola makan sering menjadi perhatian utama bagi penyandang diabetes. Makanan yang dikonsumsi, jumlah karbohidrat, hingga aktivitas fisik biasanya menjadi hal pertama yang diperiksa ketika kadar gula darah mengalami kenaikan.

Namun, ada kondisi ketika angka gula darah tetap meningkat meski pola makan sudah relatif terkontrol.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan diabetes tidak hanya berkaitan dengan apa yang masuk ke dalam tubuh. Kondisi kesehatan, tingkat stres, kecukupan cairan, obat-obatan, perubahan hormon, hingga kualitas tidur juga dapat memengaruhi kadar glukosa darah.

Dilansir dari EatingWell, berikut sejumlah faktor yang dapat menyebabkan gula darah meningkat dan kerap luput diperhatikan.

1. Tubuh sedang sakit atau mengalami stres

Ketika tubuh menghadapi infeksi, sakit, maupun tekanan fisik dan emosional, tubuh dapat memasuki kondisi stres. Dalam keadaan tersebut, sejumlah hormon, termasuk kortisol, dapat meningkat.

Hormon-hormon stres dapat memengaruhi kerja insulin sekaligus mendorong hati melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam aliran darah. Tubuh melakukan hal tersebut sebagai bagian dari respons untuk menyediakan energi ketika menghadapi tekanan.

Proses pemecahan glikogen menjadi glukosa disebut glikogenolisis, sedangkan pembentukan glukosa dari sumber non-karbohidrat disebut glukoneogenesis.

Kedua proses tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar gula darah.

Karena itu, ketika sedang sakit, penyandang diabetes perlu lebih memperhatikan perubahan kadar glukosa dan mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan tenaga medis.

Baca Juga:  Ronny Nongkah Densus 88: Radikalisme Itu Proses, Cegah Sejak Akarnya Sebelum Jadi Teror

Yang juga perlu diperhatikan adalah konsumsi minuman manis. Jus buah, minuman bersoda, maupun kopi dengan tambahan gula dapat meningkatkan asupan karbohidrat dengan cepat.

Jika gula darah mengalami perubahan besar atau sulit dikendalikan, kondisi tersebut sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter atau tenaga kesehatan.

2. Kurang minum bisa ikut mendorong kenaikan gula darah

Dehidrasi mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana, tetapi kekurangan cairan dapat memengaruhi kadar gula darah.

Ketika tubuh kehilangan cairan, volume cairan dalam aliran darah berkurang. Akibatnya, konsentrasi glukosa dalam darah dapat menjadi lebih tinggi.

Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, tergantung kondisi kesehatan, aktivitas, cuaca dan faktor lainnya. Namun, memastikan tubuh memperoleh cukup cairan merupakan bagian penting dari kebiasaan sehari-hari.

Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Minuman tanpa tambahan gula juga dapat menjadi alternatif.

Warna urine dapat menjadi salah satu petunjuk sederhana mengenai kondisi hidrasi. Urine yang berwarna kuning muda umumnya menunjukkan hidrasi yang lebih baik dibandingkan urine yang berwarna lebih pekat, meski warna urine juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain.

3. Bukan makanannya, bisa jadi obat yang dikonsumsi

Penyandang diabetes yang mengalami kenaikan gula darah sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah pola makan.

Sejumlah obat dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Salah satu kelompok yang dikenal dapat meningkatkan gula darah adalah kortikosteroid atau steroid.

Baca Juga:  Sehari Tiga Prestasi Gemilang: Manado Raih WTP Kelima Kali Beruntun, Ditambah Dua Penghargaan Nasional

Obat lain juga dapat memengaruhi kadar glukosa, tergantung jenis, dosis, kondisi kesehatan dan respons tubuh masing-masing orang. Beberapa obat yang digunakan untuk menangani kondisi kardiovaskular juga dapat berkaitan dengan perubahan kadar gula darah pada situasi tertentu.

Karena itu, obat yang diresepkan dokter tidak boleh dihentikan atau dosisnya diubah sendiri hanya karena kadar gula darah meningkat.

Jika terdapat perubahan gula darah setelah memulai obat tertentu, pasien sebaiknya mendiskusikannya dengan dokter atau tenaga kesehatan. Dokter dapat menilai apakah obat tersebut berpengaruh terhadap kadar glukosa dan apakah diperlukan penyesuaian terapi.

4. Perubahan hormon juga bisa mengubah angka gula darah

Kadar gula darah tidak berdiri sendiri. Sistem hormonal tubuh turut berperan dalam menjaga keseimbangan glukosa.

Sejumlah hormon seperti glukagon, epinefrin, kortisol dan hormon pertumbuhan dapat memengaruhi produksi glukosa oleh hati serta sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Pada perempuan dengan diabetes, perubahan hormonal selama siklus menstruasi pada sebagian orang dapat disertai perubahan kadar gula darah.

Kehamilan juga merupakan periode ketika terjadi perubahan hormonal yang besar. Hormon yang diproduksi selama kehamilan dapat meningkatkan resistensi insulin sehingga kadar gula darah dapat berubah.

Karena itu, pengelolaan gula darah selama kehamilan membutuhkan pemantauan yang lebih cermat. Ibu hamil dengan diabetes sebaiknya mendapatkan arahan dari dokter dan tenaga kesehatan yang menangani kehamilannya.

5. Tidur kurang bukan sekadar membuat tubuh lelah

Baca Juga:  Gubernur Yulius Selvanus: Simbol Toleransi di Cap Go Meh 2026

Faktor lain yang sering dianggap tidak berkaitan langsung dengan gula darah adalah kualitas tidur.

Kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas dapat memengaruhi sensitivitas tubuh terhadap insulin. Dalam jangka tertentu, kondisi tersebut dapat menyulitkan tubuh mengatur kadar glukosa secara optimal.

Bagi penyandang diabetes, menjaga jadwal tidur yang teratur menjadi bagian dari kebiasaan hidup yang mendukung pengelolaan kondisi tersebut.

Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus, terutama bila disertai masalah kesehatan lain, penyebabnya perlu dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Jangan hanya menyalahkan makanan

Kenaikan gula darah yang terjadi secara tiba-tiba tidak selalu berarti seseorang gagal menjaga pola makan.

Ada banyak faktor di luar makanan yang dapat memengaruhi glukosa darah, mulai dari tubuh yang sedang melawan penyakit, kekurangan cairan, obat-obatan tertentu, perubahan hormonal hingga kurang tidur.

Karena itu, mencatat pola makan saja mungkin belum cukup. Memperhatikan kondisi tubuh, aktivitas, waktu tidur, obat yang dikonsumsi serta perubahan kadar gula darah dapat membantu menemukan pola yang lebih jelas.

Bagi penyandang diabetes, pemantauan secara rutin dan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan kondisi tersebut.

Yang terpenting, perubahan gula darah yang tidak biasa atau sulit dikendalikan tidak sebaiknya ditangani dengan mengubah obat secara mandiri. Evaluasi tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan langkah penanganan yang tepat.

Redaksi Sulut1News