Sulut1news.com, Manado – Radikalisme dan terorisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari benih intoleransi yang dibiarkan berkembang. Demikian ditekankan Iptu Ronny Nongkah, SH, Ketua Tim Identifikasi Sosial dan Pencegahan Satgaswil Sulawesi Utara Densus 88 Anti Teror Polri, dalam pertemuan koordinasi lintas sektor yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Manado, Kamis (18/6/2026).
Hadir di hadapan segenap kepala lingkungan dan tokoh masyarakat yang ada di Kota Manado, Ronny mematahkan pandangan yang keliru bahwa terorisme melekat pada satu agama tertentu. Melalui pendekatan “Teori Siklus Pohon Terorisme”, ia menggambarkan secara jelas bagaimana ancaman itu tumbuh: intoleransi sebagai akar, radikalisme sebagai batang, dan terorisme sebagai buahnya.

“Terorisme adalah proses bertahap. Jika kita membiarkan akarnya tumbuh—yakni pemahaman yang sempit—maka lambat laun akan menjadi batang yang mengeras, hingga akhirnya melahirkan aksi kekerasan. Ini bukan milik satu agama, satu suku, atau satu ideologi saja. Di dunia, kita lihat kasus Jim Jones, Aum Shinrikyo, hingga serangan di Christchurch—semua berasal dari latar belakang berbeda, tapi memiliki pola pikir yang sama: merasa paling benar dan berhak menghukum orang lain,” tegasnya tegas.
Ronny menjabarkan akar utama yang memicu tumbuhnya paham berbahaya tersebut: pemahaman agama yang keliru dan tidak kontekstual, penafsiran kitab suci yang kaku dan tekstual, fanatisme buta terhadap tokoh tertentu, pencampuran urusan agama dan politik, hingga menganggap kepentingan kelompok lebih tinggi daripada kepentingan negara dan hukum.
Ia juga mengingatkan bahwa kelompok yang terperangkap dalam cara pandang sempit ini seringkali memandang perempuan dan anak sebagai sasaran rentan atau bahkan alat untuk menyebarkan pengaruhnya. “Di sinilah peran kita semua—terutama tokoh masyarakat—harus waspada. Pencegahan paling ampuh adalah memutus rantai sejak dini, sebelum paham itu masuk dan merusak tatanan keluarga dan lingkungan,” tambahnya.
Sebagai garda terdepan penanggulangan terorisme, Ronny menjelaskan bahwa tugas Densus 88 tidak hanya menangkap pelaku, tetapi lebih luas lagi: mendeteksi dini, memberikan pemahaman yang benar, hingga mendampingi pemulihan agar mantan narapidana terorisme bisa kembali diterima masyarakat. “Kami hadir bukan hanya untuk menindak, tapi juga membangun kesadaran. Keamanan tidak bisa dibangun sendirian—ini butuh mata dan telinga seluruh warga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala DP3A Kota Manado, Ir. Meisje H.N. Wollah, M.Si., mengapresiasi penjelasan yang disampaikan Ronny. Menurutnya, pemahaman yang komprehensif seperti ini sangat dibutuhkan agar tokoh masyarakat tidak hanya waspada terhadap kekerasan fisik, tetapi juga ancaman ideologi yang bisa merusak masa depan generasi muda.
“Kami mengundang Densus 88 agar wawasan kita utuh. Bapak Ibu yang hadir di sini adalah ujung tombak di lingkungan masing-masing. Kalau kita paham ciri dan bahayanya, kita bisa mencegah sejak awal. Ini bentuk perlindungan terbaik bagi perempuan dan anak-anak kita,” katanya.
Kegiatan ini menegaskan bahwa menjaga kedamaian Manado dan Sulawesi Utara adalah tanggung jawab bersama. Dengan memahami akar masalahnya, masyarakat dapat menjadi benteng terkuat melawan segala bentuk paham yang merusak persatuan dan keharmonisan. (EL)






