Sulut1news.com, Teheran, 2 Februari 2026 – Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah mengeluarkan perintah resmi untuk memulai kembali pembicaraan bilateral dengan Amerika Serikat terkait program nuklir negara tersebut, setelah putaran negosiasi sebelumnya terhenti akibat aksi militer Amerika Serikat bersama Israel pada Juni tahun lalu. Angka baru yang diangkat dalam langkah diplomatik ini adalah peran aktif negara-negara regional seperti Turki, Qatar, dan Mesir sebagai fasilitator dan penyangga untuk mencegah perluasan konflik, dengan kemungkinan besar pembicaraan akan digelar di Turki dengan partisipasi Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.
Sumber yang dekat dengan masalah ini mengkonfirmasi kepada kantor berita Fars dan Tasnim bahwa keputusan untuk melanjutkan pembicaraan telah diberikan pada hari Senin. Meskipun waktu dan lokasi belum diumumkan secara resmi, laporan dari ISNA menunjukkan bahwa delegasi kedua negara akan bertemu dalam beberapa hari mendatang.
Tim Perunding Utama Kembali Bertugas, Turki Siap Jadi Wadah
Seperti pada putaran negosiasi sebelumnya yang dimediasi oleh Oman, pembicaraan potensial ini akan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan senior Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi dan Kazem Gharibabadi akan mendampingi Araghchi dalam mewakili posisi Teheran.
Kesempatan Turki menjadi tuan rumah semakin terbuka lebar menyusul kunjungan Araghchi ke Ankara pada hari Jumat lalu, di mana pihak berwenang Turki menyampaikan komitmen untuk membantu memfasilitasi dialog antara Teheran dan Washington. Selain Turki, Qatar dan Mesir juga telah melakukan upaya diplomatik guna menjadi tuan rumah, dengan tujuan utama untuk mencegah terjadinya tindakan agresi baru yang dapat memicu perang skala regional.
Latar Belakang Pembicaraan Terhenti dan Pergeseran Retorika AS
Pembicaraan sebelumnya terhenti pada bulan Juni setelah Amerika Serikat bergabung dengan Israel dalam serangan militernya yang termasuk menyerang situs nuklir Iran. Sejak itu, pejabat Iran telah secara tegas menyatakan bahwa setiap serangan dari Amerika Serikat atau Israel akan mendapatkan tanggapan yang cepat dan kuat, dengan risiko membakar zona konflik di seluruh kawasan Teluk Persia.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Trump yang awalnya mengancam serangan dan mendukung aksi yang menimbulkan kekacauan di beberapa kota Iran pada awal bulan ini, menunjukkan pergeseran retorika dengan menyerukan kesepakatan. Pada hari Minggu, ia mengklaim bahwa pejabat Iran “serius berbicara dengan kami” meskipun tidak memberikan rincian detail, dan menyampaikan harapan untuk mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif.
Di sisi lain, pihak Iran menegaskan bahwa pembicaraan akan berjalan berdasarkan prinsip saling menghormati kedaulatan dan penghormatan terhadap hak negara untuk mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, sesuai dengan kesepakatan internasional yang telah ditandatangani.
Redaksi Sulut1News
Sumber: Sindo News






