InternasionalJakarta

Konflik Timur Tengah Memanas, Iran Ancam Perusahaan Teknologi AS Jadi Target Serangan

184
×

Konflik Timur Tengah Memanas, Iran Ancam Perusahaan Teknologi AS Jadi Target Serangan

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terus meningkat dan mulai merambah ke sektor ekonomi serta teknologi global. Iran melalui pasukan elitnya memperingatkan bahwa sejumlah perusahaan teknologi besar Amerika Serikat berpotensi menjadi target serangan jika konflik terus meluas.

Ancaman tersebut disampaikan oleh (IRGC) yang menyebut pusat ekonomi, perbankan, hingga kantor perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah dapat menjadi sasaran berikutnya.

Sejumlah perusahaan teknologi raksasa yang disebut dalam peringatan tersebut antara lain , , , , , serta . Perusahaan-perusahaan ini diketahui memiliki kantor atau aktivitas bisnis di maupun beberapa negara Teluk.

Konflik Memasuki Hari ke-12

Memasuki hari ke-12 konflik, pemerintah menuduh serangan gabungan dan telah menghantam hampir 10.000 lokasi sipil di wilayahnya. Laporan media internasional menyebutkan lebih dari 1.300 warga sipil dilaporkan tewas sejak serangan dimulai.

Baca Juga:  RUPIAH MENGUAT, MENKEU: "BUKAN HANYA KARENA THOMAS DJIWANDONO"

Ketegangan semakin meningkat setelah sebuah gedung yang berafiliasi dengan dilaporkan terkena serangan di . Insiden tersebut disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya ancaman dari pihak Iran.

Juru bicara markas militer , yang oleh disebut memiliki keterkaitan dengan IRGC, menyatakan tindakan lawan telah membuka peluang bagi Iran untuk memperluas target serangan.

“Musuh telah membuka jalan bagi kami untuk menargetkan pusat ekonomi dan bank yang dimiliki Amerika Serikat dan rezim Zionis di kawasan,” ujar juru bicara tersebut seperti dikutip media internasional, Sabtu (14/3/2026).

Peringatan untuk Warga Sipil

Komando operasional militer Iran juga mengeluarkan peringatan bagi masyarakat di kawasan Timur Tengah agar menjauhi area sekitar bank dan fasilitas ekonomi yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Baca Juga:  Rieke Diah Pitaloka: Komnas Perempuan dan  Komnas HAM Belum Beri Respons Serius  Terhadap Kasus Dugaan Child Grooming Aurelie Moeremans

Warga bahkan diminta untuk tidak berada dalam radius satu kilometer dari fasilitas tersebut sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan.

Sementara itu, kantor berita , media yang memiliki hubungan dengan IRGC, turut merilis daftar kantor perusahaan teknologi Amerika Serikat yang disebut sebagai “target baru Iran”.

Dampak ke Sektor Keuangan Global

Ketegangan yang terus meningkat mulai berdampak pada sektor keuangan internasional. Sejumlah lembaga keuangan global dilaporkan mengambil langkah antisipatif dengan memindahkan karyawan dari wilayah berisiko tinggi.

Beberapa bank internasional seperti dan dilaporkan mulai mengevakuasi staf dari kantor mereka di .

Sementara itu, disebut telah menutup sementara operasional cabangnya di demi memastikan keselamatan karyawan dan nasabah.

Baca Juga:  Gubernur Yulius Desak HGU dan Lahan IUP Terlantar Dibuka: “Sulut Hanya Punya 23 Persen Daratan”

Para analis menilai, jika konflik terus berkembang menjadi perang yang menargetkan infrastruktur ekonomi, dampaknya bisa meluas ke stabilitas pasar global, industri teknologi, hingga sistem keuangan internasional.

Ketegangan juga dipicu oleh laporan serangan Israel terhadap lembaga keuangan yang berafiliasi dengan di pada 9 Maret lalu, yang disebut Iran sebagai tindakan provokatif.

Dengan situasi yang terus memanas, dunia internasional kini memantau dengan cermat perkembangan konflik tersebut, karena potensi eskalasinya tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global.

Redaksi Sulut1News