Sulut1news.com, Manado – Rencana pembukaan Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri Manado (UNIMA) bukan sekadar penambahan jurusan baru di dunia pendidikan tinggi, melainkan terobosan strategis yang menjadi jawaban nyata atas tantangan besar pelayanan kesehatan di tanah Nyiur Melambai. Hal ini ditekankan tegas Sekretaris Daerah (Sekprov) Provinsi Sulawesi Utara, Tahlis Gallang, saat memimpin Rapat Koordinasi Teknis pembentukan fakultas ini, Senin (18/5/2026).
Bagi Sekprov, pertemuan hari ini menjadi titik tolak penting yang mempertemukan dua pilar utama kemajuan daerah: pendidikan berkualitas dan pelayanan kesehatan yang merata. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras menyusun persiapan ini, menyebutnya sebagai upaya mulia yang akan dicatat dalam sejarah pembangunan Sulawesi Utara.
Dalam pandangan Tahlis Gallang, kehadiran fakultas kedokteran ini lahir dari kesadaran mendalam atas realitas lapangan yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar. Kebutuhan akan tenaga medis, baik dokter umum maupun dokter spesialis, masih menjadi tantangan nyata yang belum sepenuhnya terpenuhi.
“Kita harus jujur dan sadar sepenuhnya, hingga hari ini masih banyak titik pelayanan kesehatan, baik Rumah Sakit maupun Puskesmas, yang kekurangan tenaga. Kondisi ini paling terasa di daerah kepulauan dan wilayah perbatasan yang sulit dijangkau. Ketimpangan ini harus kita akhiri, dan Fakultas Kedokteran UNIMA adalah solusi konkretnya,” ungkap Tahlis Gallang dengan nada serius.
Ia menilai, mengandalkan pasokan dokter dari luar daerah saja tidak cukup dan tidak akan mampu mengejar kebutuhan yang terus meningkat. Sulawesi Utara harus mulai berdiri di atas kaki sendiri.
Salah satu sudut pandang utama yang diangkat Sekprov adalah soal kemandirian dan keberpihakan pada putra-putri daerah. Selama ini, banyak anak muda berbakat yang bercita-cita menjadi dokter harus merantau jauh ke luar pulau karena keterbatasan akses pendidikan kedokteran di wilayah sendiri. Biaya yang besar dan jarak yang jauh seringkali menjadi penghalang bagi mereka yang memiliki kemampuan akademis tinggi namun keterbatasan ekonomi.
Kehadiran fakultas ini memutus mata rantai keterbatasan tersebut.
“Ini adalah bentuk investasi paling berharga bagi masa depan Sulut. Ketika kita mampu melahirkan dokter dari kampus di tanah kelahiran sendiri, berarti kita sedang membangun kemandirian pelayanan kesehatan kita. Anak-anak berbakat kita tidak perlu lagi pergi jauh-jauh. Mereka bisa belajar di sini, dekat keluarga, dan yang terpenting, mereka tumbuh besar memahami benar kondisi, budaya, dan tantangan kesehatan masyarakat kita sendiri,” jelasnya.
Sekprov meyakini, dokter yang lahir dari daerah sendiri memiliki ikatan batin dan jiwa pengabdian yang lebih kuat untuk kembali melayani masyarakat di pelosok-pelosok desa dan pulau.
Meskipun dukungan pemerintah provinsi penuh dan tanpa ragu, Tahlis Gallang menegaskan ada satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar: Kualitas. Pembukaan fakultas ini tidak boleh sekadar ada, namun harus menjadi lembaga pendidikan yang bermutu tinggi dan diakui nasional.
Ia meminta seluruh tim persiapan bekerja dengan standar tertinggi, memastikan seluruh kurikulum, fasilitas, tenaga pengajar, dan sistem manajemen memenuhi syarat ketat dari pemerintah pusat dan lembaga akreditasi.
“Jangan pernah berkompromi pada kualitas. Kami tidak hanya butuh banyak dokter, tapi dokter yang unggul secara ilmu pengetahuan, profesional dalam bekerja, berintegritas tinggi, serta memiliki jiwa humanis yang kuat. Kami ingin lulusan UNIMA nanti menjadi teladan tenaga medis yang tidak hanya menyembuhkan penyakit, tapi juga menyehatkan hubungan yang baik dengan masyarakat,” tegas Sekprov Tahlis Gallang menutup arahannya.
Dukungan penuh ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Provinsi Sulut serius mewujudkan akses kesehatan yang setara bagi seluruh warganya, dimulai dari membangun sumber daya manusianya sendiri. (EL)






