ManadoSulut

Lebaran Kedua di Manado: Iwadh Jadi Simbol Hidupnya Tradisi dan Kedekatan Pemimpin dengan Rakyat

141
×

Lebaran Kedua di Manado: Iwadh Jadi Simbol Hidupnya Tradisi dan Kedekatan Pemimpin dengan Rakyat

Sebarkan artikel ini

 

Sulut1news.com, Manado – Suasana Lebaran hari kedua di Kampung Arab Manado tahun ini tak sekadar menjadi perayaan religius, tetapi juga momentum penting yang memperlihatkan kuatnya jalinan tradisi, kebersamaan, dan kedekatan antara masyarakat dengan pemimpinnya. Di tengah nuansa Idulfitri yang hangat, tradisi Iwadh kembali dihidupkan dengan semarak, menghadirkan harmoni antara nilai keagamaan dan kearifan lokal.

Gubernur Sulawesi Utara bersama Wakil Gubernur tampak hadir langsung di jantung Kampung Arab, menyatu dengan masyarakat dalam pelaksanaan tradisi turun-temurun tersebut. Kehadiran mereka bukan sekadar agenda seremonial, melainkan mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang membumi dan dekat dengan denyut kehidupan warga.

Iwadh sendiri merupakan tradisi yang telah diwariskan lebih dari 90 tahun oleh komunitas keturunan Arab di Manado. Lebih dari sekadar ritual, Iwadh menjadi ruang spiritual dan sosial, di mana warga saling mengunjungi dari rumah ke rumah, memanjatkan doa, serta mempererat tali silaturahmi usai menjalani bulan suci Ramadan.

Baca Juga:  Gubernur Yulius Tunjuk Steyfen Rico Lasut Jadi Plt Kadis Perindag Sulut: Jaga Stabilitas, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Sejak pagi, lorong-lorong Kampung Arab telah dipadati warga yang berjalan berkelompok, mengetuk pintu-pintu rumah yang terbuka lebar. Di setiap kunjungan, imam dan tokoh agama melantunkan doa-doa yang berpadu dengan irama rebana hadroh, menciptakan suasana religius yang khidmat sekaligus hangat. Tuan rumah menyambut dengan hidangan khas, memperkuat makna kebersamaan dalam balutan tradisi.

Turut hadir pula Wali Kota Manado , Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara , serta Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulut . Kehadiran para pejabat ini semakin mempertegas bahwa Iwadh tidak hanya menjadi milik komunitas tertentu, tetapi telah menjadi bagian penting dari identitas sosial Kota Manado.

Gubernur Yulius Selvanus terlihat berjalan menyusuri lorong kampung bersama warga, menyapa dan bersalaman tanpa sekat. Interaksi yang terbangun berlangsung natural, memperlihatkan bahwa kehadiran pemerintah di tengah masyarakat dapat menjadi perekat sosial yang kuat, terutama dalam momen-momen penuh makna seperti Idulfitri.

Baca Juga:  POLRESTA MANADO BERI PERINGATAN TEGAS: "TAURAN ANTAR KAMPUNG TIDAK AKAN DITOLERIR LAGI"

Lebih jauh, Iwadh mencerminkan wajah sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan keberagaman. Tradisi ini menjadi bukti bahwa perbedaan latar belakang bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun harmoni sosial yang berkelanjutan.

“Iwadh menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan toleransi masih hidup dan dirawat dengan baik. Ini bukan hanya tradisi, tetapi cerminan karakter masyarakat Manado yang terbuka dan saling menghargai,” ujar Audy Pangemanan.

Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai tradisional, Iwadh hadir sebagai pengingat bahwa identitas budaya dan spiritualitas tetap relevan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan—serta memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemimpinnya dalam satu harmoni kebersamaan.

Baca Juga:  Jemmy Ringkuangan Ingatkan, Literasi dan Disiplin Keuangan Jadi Penentu Masa Depan UMKM

(EL)