Sulut1news.com, Jakarta, 27 Desember 2025 – Dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara maju, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 50 ruas jalan tol sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Langkah ini bukan hanya kelanjutan warisan infrastruktur era Joko Widodo, melainkan juga upaya mempercepat konektivitas antarwilayah, dorong pertumbuhan ekonomi, dan kurangi disparitas regional yang tetap menjadi tantangan.
Dengan total 226 PSN dan 24 Program Strategis Nasional secara keseluruhan, proyek tol ini diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas barang dan manusia yang menjangkau dari ujung Sumatera hingga Bali, bahkan menyebar ke Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur.
Penetapan 50 ruas tol sebagai PSN tertuang dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekonomi) Nomor 16 Tahun 2025 – perubahan kedelapan atas regulasi sebelumnya – yang ditandatangani Menko Ekonomi Airlangga Hartarto pada 24 September 2025.
Regulasi ini menekankan penegakan penyelesaian proyek sesuai rencana awal, dengan mekanisme pelaporan ketat jika terjadi keterlambatan. “Jika PSN tidak dapat diselesaikan tepat waktu, penanggung jawab harus melaporkan dan mengusulkan revisi rencana ke Menko Ekonomi,” bunyi Pasal 2A ayat 2 dalam peraturan tersebut.
Komitmen Persiden Prabowo untuk melanjutkan dan memperluas proyek infrastruktur strategis – di mana ada 10 di antaranya merupakan warisan pemerintahan Jokowi yang kini diprioritaskan diselesaikan. Sedangkan sebanyak 15 ruas masih dalam tahap perencanaan, sementara sisanya sudah memasuki konstruksi atau operasional parsial.
Para analis ekonomi memprediksi penyelesaian tol-tol ini bisa meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga 1-2% melalui efisiensi logistik, terutama di koridor Trans Sumatera yang menjadi fokus utama. Proyek ini juga diharapkan mendongkrak investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui perkuatan rantai pasok nasional.
Berikut adalah daftar 50 ruas tol yang masuk PSN, dikelompokkan berdasarkan dampak regionalnya:
Trans Sumatera (18 Ruas): Tulang Punggung Ekonomi Pulau Terbesar
Mencakup koneksi dari Aceh hingga Bengkulu, yang akan memangkas waktu perjalanan dan mendukung ekspor komoditas minyak sawit, batubara, dan hasil pertanian lainnya.
1. Serang – Panimbang (Banten)
2. Medan – Binjai (Sumatera Utara)
3. Pekanbaru – Kandis – Dumai (Riau)
4. Kisaran – Tebing Tinggi (Sumatera Utara)
5. Sigli – Banda Aceh (Aceh)
6. Binjai – Langsa (Aceh, Sumatera Utara)
7. Bukittinggi – Padang Panjang – Lubuk Alung – Padang (Sumatera Barat)
8. Pekanbaru – Bangkinang – Payakumbuh – Bukittinggi (Riau, Sumatera Barat)
9. Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Prapat – Tarutung – Sibolga (Sumatera Utara)
10. Betung (Sp. Sekayu) – Tempino – Jambi (Jambi, Sumatera Selatan)
11. Jambi – Rengat (Jambi, Riau)
12. Rengat – Pekanbaru (Riau)
13. Simpang Indralaya – Muara Enim (Sumatera Selatan)
14. Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu (Sumatera Selatan, Bengkulu)
15. Kayu Agung – Palembang – Betung (Sumatera Selatan)
16. Pandaan – Malang (Jawa Timur, ekstensi Sumatera-Jawa)
17. Pasuruan – Probolinggo (Jawa Timur)
18. Probolinggo – Banyuwangi (Jawa Timur)
Jabodetabek dan Jawa Barat (20 Ruas): Mengurai Kemacetan, Dukung Industri
Fokus mengatasi bottleneck lalu lintas di pusat ekonomi nasional, termasuk akses ke pelabuhan Patimban dan Tanjung Priok serta pembangunan ring road.
19. Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Jawa Barat)
20. Ciawi – Sukabumi – Ciranjang – Padalarang (Jawa Barat)
21. Cengkareng – Batu Ceper – Kunciran (DKI Jakarta, Banten)
22. Serpong – Cinere (Banten, Jawa Barat)
23. Cinere – Jagorawi (DKI Jakarta, Jawa Barat)
24. Cimanggis – Cibitung (Jawa Barat)
25. Cibitung – Cilincing (DKI Jakarta, Jawa Barat)
26. Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (DKI Jakarta, Jawa Barat)
27. Serpong – Balaraja (Banten)
28. Semanan – Sunter (DKI Jakarta)
29. Sunter – Pulo Gebang (DKI Jakarta)
30. Duri Pulo – Kampung Melayu (DKI Jakarta)
31. Kemayoran – Kampung Melayu (DKI Jakarta)
32. Ulujami – Tanah Abang (DKI Jakarta)
33. Pasar Minggu – Casablanca (DKI Jakarta)
34. Jakarta – Cikampek II Sisi Selatan (DKI Jakarta, Jawa Barat)
35. Depok – Antasari (termasuk Bojonggede – Salabenda) (Jawa Barat)
36. Bogor Ring Road (termasuk Caringin – Salabenda) (Jawa Barat)
37. Gedebage – Tasikmalaya – Cilacap (Jawa Barat, Jawa Tengah)
38. Akses Pelabuhan Patimban (Jawa Barat)
39. New Priok Eastern Access (NPEA) (DKI Jakarta)
40. Jalan Tol Ancol Timur – Pluit (Elevated) (DKI Jakarta)
Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Luar Jawa (12 Ruas): Pembangunan Inklusif
Menjangkau wilayah timur dan pulau lain, termasuk dukungan pariwisata di Bali dan industri di Kalimantan serta Sulawesi Utara.
41. Manado – Bitung (Sulawesi Utara)
42. Balikpapan – Samarinda (Kalimantan Timur)
43. Krian – Legundi – Bunder – Manyar (Jawa Timur)
44. Semarang – Demak (Jawa Tengah)
45. Yogyakarta – Bawen (DIY, Jawa Tengah)
46. Fly Over Terminal Teluk Lamong (Jawa Timur)
47. Ngawi – Kertosono – Kediri (Jawa Timur)
48. Solo – Yogyakarta – Kulon Progo (Jawa Tengah, DIY)
49. Gilimanuk – Negara – Pekutatan – Soka – Mengwi (Bali)
50. Jalan Tol Dalam Kota Bandung (North – South Link dan Inter Urban Toll Road) (Jawa Barat)
Kebijakan ini mendapat sambutan positif dari pengusaha dan pemerintah daerah, meskipun tantangan seperti pembebasan lahan dan pendanaan tetap menjadi sorotan. Airlangga Hartarto menyatakan bahwa prioritas ditujukan pada proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) seperti Tol Getaci dan Gilimanuk-Mengwi, yang siap dilelang segera.
“Dengan ini, era Prabowo tidak hanya melanjutkan warisan infrastruktur sebelumnya, tetapi juga mengakselerasi mimpi Indonesia yang lebih terintegrasi dan maju,” tutup Airlangga.
(EL)






