Daerah

Prabowo Pilih Lebaran di Pengungsian: Pesan Kuat Negara Hadir di Tengah Derita Rakyat

147
×

Prabowo Pilih Lebaran di Pengungsian: Pesan Kuat Negara Hadir di Tengah Derita Rakyat

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Aceh — Di pagi Idulfitri yang biasanya identik dengan kehangatan keluarga, suasana berbeda justru menyelimuti kawasan pengungsian di Karang Baru, Aceh Tamiang. Di antara deretan hunian sementara dan jejak bencana yang belum sepenuhnya pulih, Prabowo Subianto memilih merayakan hari kemenangan bersama para penyintas—mengirim pesan kuat bahwa negara hadir, bahkan di titik paling rapuh sekalipun.

Bukan di istana atau pusat kota, salat Idulfitri dilaksanakan di masjid sederhana yang berdiri di tengah kawasan terdampak. Pilihan lokasi ini bukan kebetulan. Ia menjadi simbol empati sekaligus sinyal politik: bahwa proses rehabilitasi pascabencana di Sumatera belum selesai, dan masih membutuhkan perhatian penuh dari pemerintah pusat.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa kehadiran Presiden telah direncanakan sejak awal sebagai bagian dari upaya memastikan percepatan pemulihan berjalan di jalur yang tepat.

Baca Juga:  Nyala Cahaya dari Hati: PLN Suluttenggo Wujudkan Impian Listrik Gratis bagi Warga Talaud

“Presiden ingin berada langsung di tengah masyarakat yang terdampak, bukan sekadar menerima laporan,” ujarnya.

Antara Simbol dan Realitas

Kehadiran kepala negara di tengah pengungsian memang sarat makna. Di satu sisi, ia menjadi simbol solidaritas nasional—bahwa penderitaan warga tidak luput dari perhatian. Namun di sisi lain, momen ini juga menyoroti realitas yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Ribuan warga di wilayah terdampak seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat masih bergulat dengan pemulihan kehidupan. Sejumlah capaian memang telah terlihat: listrik mulai stabil, distribusi bahan bakar kembali normal, layanan kesehatan dan pendidikan berangsur pulih, serta aktivitas ekonomi lokal mulai menggeliat.

Namun, fase “mendekati normal” masih menyisakan pekerjaan besar.

Pembangunan infrastruktur permanen seperti jalan dan jembatan masih berlangsung. Normalisasi sungai untuk mencegah bencana berulang belum sepenuhnya rampung. Di sektor pendidikan, sejumlah fasilitas yang rusak masih menunggu perbaikan menyeluruh.

Baca Juga:  PLN UID Suluttenggo Gandeng Kejati Sulteng, Jamin Program Strategis Berjalan Transparan dan Berlandaskan GCG

Di Aceh Tamiang sendiri, puluhan keluarga masih bertahan di tenda pengungsian, menunggu kepastian relokasi ke hunian yang lebih layak dan aman.

Ujian Nyata Rehabilitasi

Pemerintah kini memasuki fase krusial: memastikan transisi dari tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif. Fokus berikutnya adalah pembangunan hunian tetap, baik melalui skema pembangunan di lokasi asal (insitu) maupun kawasan relokasi terpadu.

Selain itu, pemulihan ekonomi masyarakat menjadi tantangan tak kalah penting. Rehabilitasi lahan pertanian, tambak, serta akses permodalan menjadi kunci agar penyintas tidak hanya “selamat”, tetapi juga mampu kembali mandiri.

Menurut Tito, percepatan pembangunan hunian tetap akan mulai dieksekusi setelah Lebaran, menandai babak baru dalam upaya pemulihan jangka panjang.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Gelar Rapat Malam Hari di Hambalang, Teliti Lima Program Strategis Penting Pemerintah

Lebaran, Harapan, dan Tuntutan Akuntabilitas

Kunjungan Presiden ke wilayah bencana bukanlah yang pertama. Sebelumnya, ia juga memilih merayakan pergantian tahun bersama penyintas di Sumatera Utara—sebuah pola pendekatan yang mengedepankan kehadiran langsung di lapangan.

Namun pada akhirnya, simbolisme harus diikuti oleh hasil konkret.

Bagi para penyintas, Lebaran di pengungsian bukan sekadar tentang kebersamaan sesaat. Yang lebih penting adalah kepastian: kapan mereka bisa kembali ke rumah yang layak, kapan kehidupan benar-benar pulih, dan seberapa kuat sistem yang dibangun mampu melindungi mereka dari bencana di masa depan.

Di tengah gema takbir dan harapan baru, satu pesan mengemuka—bahwa kehadiran negara tidak boleh berhenti pada momen, tetapi harus berlanjut hingga pemulihan benar-benar tuntas.

Redaksi Sulut1News