Sulut1news.com, Riyadh – Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase paling genting. Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat–Israel dan yang kini telah memasuki pekan keempat, mengambil langkah diplomatik keras dengan mengusir sejumlah pejabat militer Teheran dari wilayahnya.
Keputusan dramatis itu diumumkan Kementerian Luar Negeri Saudi pada Sabtu (21 Maret 2026), menyusul rangkaian serangan rudal dan drone yang dituduhkan berasal dari Iran dan berulang kali menyasar wilayah kerajaan. Riyadh secara resmi menetapkan atase militer Iran, asistennya, serta tiga staf kedutaan sebagai persona non grata, dan memberi tenggat waktu hanya 24 jam untuk meninggalkan negara tersebut.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Saudi menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons atas “agresi berkelanjutan” yang dinilai mengancam langsung kedaulatan dan keamanan nasional. Riyadh juga menegaskan komitmennya untuk melindungi wilayah dan kepentingan strategisnya dari setiap bentuk serangan.
Sejak operasi militer gabungan yang dipimpin dan terhadap Iran dimulai pada akhir Februari lalu, Teheran disebut melancarkan ratusan serangan balasan ke berbagai target di kawasan, termasuk negara-negara Teluk yang dianggap mendukung Washington. Arab Saudi menjadi salah satu sasaran utama.
Sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara canggih seperti Patriot dan THAAD, namun beberapa proyektil dilaporkan tetap menembus pertahanan. Target yang terdampak mencakup fasilitas energi strategis di wilayah timur Saudi, pelabuhan ekspor minyak di Yanbu, hingga area sekitar fasilitas milik —yang sempat mengganggu produksi dan distribusi energi global.
Langkah pengusiran ini sekaligus mempertegas perubahan sikap Riyadh yang kian konfrontatif. Sebelumnya, pejabat tinggi Saudi bahkan telah menyatakan bahwa kerajaan memiliki hak untuk melakukan aksi militer langsung terhadap Iran jika serangan terus berlanjut. Pernyataan itu menandai runtuhnya kepercayaan yang sempat dibangun dalam beberapa tahun terakhir.
Padahal, hubungan kedua negara sempat mencair setelah kesepakatan normalisasi pada 2023 yang dimediasi oleh —sebuah terobosan diplomatik yang kala itu dipuji sebagai langkah besar menuju stabilitas kawasan. Kini, kesepakatan tersebut praktis berada di ambang kehancuran.
Dampak konflik ini tidak hanya terasa di tingkat regional, tetapi juga global. Ketegangan di sekitar —jalur vital distribusi energi dunia—sempat memicu kekhawatiran penutupan oleh Iran, yang berimbas pada lonjakan harga minyak internasional. Sejumlah fasilitas energi di negara-negara Teluk juga dilaporkan menghentikan operasi sementara akibat ancaman serangan lanjutan.
Langkah tegas Arab Saudi ini menjadi sinyal bahwa negara-negara Teluk semakin kehilangan toleransi terhadap aksi militer Iran. Sebelumnya, negara seperti juga dilaporkan mengambil langkah serupa dengan mengusir pejabat militer Iran.
Para analis menilai, jika eskalasi tidak segera diredam, kawasan Teluk berisiko terseret ke dalam konflik terbuka yang lebih luas—dengan konsekuensi serius terhadap stabilitas global dan pasokan energi dunia.
Redaksi Sulut1News – Memantau perkembangan geopolitik global untuk Anda.






