Terkini

Yulius Selvanus: Pemprov Sulut Tidak Anti Kritik, Tapi Minta Pers Beretika, Berimbang, dan Berbasis Data

135
×

Yulius Selvanus: Pemprov Sulut Tidak Anti Kritik, Tapi Minta Pers Beretika, Berimbang, dan Berbasis Data

Sebarkan artikel ini

Sintya Bojoh Resmi Pimpin PWI Sulut, Perempuan Pertama yang Duduk di Kursi Pucuk Pimpinan

Sulut1news.com, Manado – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menegaskan komitmennya yang terbuka terhadap kontrol publik dan masukan dari insan pers. Namun demikian, kebebasan menyampaikan kritik harus tetap dibingkai dengan tanggung jawab, etika jurnalistik, dan kebenaran data. Hal ini disampaikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, dalam acara pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulut periode 2026–2031 yang berlangsung khidmat di Manado, Rabu (13/5/2026).

Momen ini sekaligus bersejarah, karena pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menandai terpilihnya Sintya Bojoh sebagai Ketua PWI Sulut, menjadi perempuan pertama yang memimpin organisasi wartawan tertua dan terbesar di provinsi ini.

Dalam sambutannya, Gubernur Yulius menegaskan garis tegas hubungan antara pemerintah dan media massa. Ia menegaskan bahwa Pemprov Sulut sama sekali tidak anti terhadap kritik, karena baginya, koreksi dan masukan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi yang sehat. Namun, ia mengingatkan agar kritik tersebut tidak berubah menjadi serangan yang tidak berdasar, berbau pribadi, atau menyebarkan informasi yang menyesatkan masyarakat luas.

Baca Juga:  Kapolri Kunjungi Huntara Banjir-Longsor Tapanuli Tengah, Serahkan 16 Truk Bantuan Termasuk Bantuan Pendidikan

“Kritik boleh, koreksi silakan, itu hak dan kewajiban rekan-rekan wartawan. Kami justru butuh itu agar kinerja pemerintah semakin baik. Namun ada syarat mutlak: harus tetap mengedepankan etika jurnalistik, memahami konteks persoalan, dan pastikan apa yang disampaikan itu benar dan berdasar fakta. Jangan sampai kritik yang membangun berubah menjadi serangan sepihak atau informasi yang menyesatkan publik,” tegas Yulius Selvanus di hadapan ratusan wartawan dan tamu undangan.

Salah satu poin penting yang ditekankan Gubernur adalah kedalaman materi pemberitaan. Ia mengajak seluruh wartawan di Sulawesi Utara untuk lebih mendalami dokumen-dokumen perencanaan dan penganggaran daerah, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap dokumen tersebut akan membuat pemberitaan menjadi lebih tajam, proporsional, serta bernilai edukatif bagi masyarakat. Tanpa memahami arah kebijakan dan perencanaan jangka panjang, dikhawatirkan pemberitaan hanya bersifat permukaan dan tidak menangkap substansi pembangunan yang sedang dijalankan.

“Pemahaman terhadap dokumen daerah seperti RPJMD dan APBD itu sangat penting. Kalau rekan-rekan paham rencana besar kami, maka saat meliput kegiatan atau kebijakan, beritanya akan lebih lengkap, kontekstual, dan bisa mendidik masyarakat memahami arah pembangunan Sulut. Berita yang baik adalah berita yang tidak hanya melaporkan kejadian, tapi juga menjelaskan latar belakang dan tujuannya,” tambahnya.

Baca Juga:  Arab Saudi Usir Diplomat Iran di Tengah Eskalasi Perang Timur Tengah, Riyadh Beri Ultimatum 24 Jam

Gubernur Yulius juga mengangkat isu keseimbangan pemberitaan. Ia mengakui bahwa secara alamiah berita yang menarik perhatian sering kali berkaitan dengan masalah atau kekurangan. Namun, ia meminta media massa juga memberi ruang yang layak bagi berbagai program, terobosan, serta capaian positif yang telah diraih pemerintah daerah bersama masyarakat.

“Jangan hanya menyoroti sisi yang kurang atau sisi negatif saja. Kami minta keseimbangan. Beritakan apa yang belum beres agar kami perbaiki, tapi beritakan juga apa yang sudah kami kerjakan, program-program yang bermanfaat bagi rakyat, dan kemajuan yang sudah kita raih bersama. Pembangunan itu kerja keras bersama, dan hasilnya layak diketahui masyarakat luas,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya berita bohong atau hoaks, Yulius menekankan peran strategis wartawan sebagai garda terdepan penjaga kebenaran. Kompetensi dan integritas wartawan saat ini diuji lebih berat dari sebelumnya. Media massa, kata dia, memegang peran kunci dalam menjaga stabilitas daerah dan kualitas demokrasi agar tetap sehat dan terjaga.

Baca Juga:  Turun Langsung ke Lokasi Bencana, Gubernur Yulius Pastikan Penanganan Banjir Bandang Siau Tepat Sasaran

Sementara itu, pelantikan ini menjadi catatan emas sejarah pers di Sulawesi Utara. Sintya Bojoh resmi dilantik memegang tampuk pimpinan PWI Sulut, menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi dalam organisasi tersebut sejak berdiri.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam arahannya mengapresiasi dinamika dan regenerasi kepemimpinan di PWI Sulut. Ia menilai terpilihnya Sintya adalah bukti bahwa profesi kewartawanan di Indonesia semakin terbuka, setara, dan diisi oleh tenaga-tenaga profesional yang mumpuni, tanpa memandang jenis kelamin.

Kepada pengurus baru, Gubernur Yulius menyampaikan selamat dan harapan besar. Ia berpesan agar di bawah kepemimpinan Sintya Bojoh, PWI Sulut semakin kokoh menjadi mitra strategis pemerintah, menjaga marwah pers yang beretika, serta terus berkontribusi memajukan Sulawesi Utara menuju daerah yang makmur, damai, dan bermartabat.
EL