Sulut1news.com, Jakarta – Duka mendalam menyelimuti misi perdamaian dunia setelah tiga prajurit TNI gugur dalam serangan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. Tragedi ini tidak hanya mengguncang Indonesia, tetapi juga mendapat sorotan dan simpati dari komunitas internasional.
Presiden Korea Selatan, , secara langsung menyampaikan belasungkawa kepada Indonesia dalam pertemuan bilateral dengan Presiden RI di Istana Kepresidenan Blue House (Cheong Wa Dae), Rabu (1/4).
“Saya ingin menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada anggota militer Indonesia yang berpartisipasi dalam operasi perdamaian di Lebanon yang telah meninggal dunia akibat ledakan,” ujar Lee.
Ketiga prajurit TNI tersebut merupakan bagian dari misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon atau (UNIFIL). Dalam keterangan resminya, UNIFIL menyebut dua prajurit gugur akibat ledakan dari sumber yang belum diketahui pada Senin.
Sementara satu prajurit lainnya, Praka Farizal Rhomadhon, tewas sehari sebelumnya akibat ledakan proyektil di dekat pos kontingen Indonesia di Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, Minggu (29/3).
Insiden ini memicu kecaman keras dari berbagai pihak. Sekretaris Jenderal PBB, , menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun.
Pemerintah Indonesia juga bergerak cepat. Menteri Luar Negeri mendesak digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB guna membahas insiden tersebut.
“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijunjung tinggi setiap saat,” tegas Sugiono dalam pernyataannya.
Presiden Prabowo turut menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para prajurit. Ia memberikan penghormatan atas dedikasi dan pengorbanan mereka dalam menjalankan misi kemanusiaan dunia.
“Innalillahi waina ilaihi rajiun, turut berduka cita atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah,” ujar Prabowo.
Tragedi ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan maksimal bagi personel yang mengemban misi menjaga stabilitas dan perdamaian global.
Redaksi Sulut1News






