InternasionalJakartaTerkini

Tarif Dagang 19% Jadi Ancaman PHK Massif – Apindo Minta Prabowo Borong Pasar Baru Saat Temui Trump

254
×

Tarif Dagang 19% Jadi Ancaman PHK Massif – Apindo Minta Prabowo Borong Pasar Baru Saat Temui Trump

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Penandatanganan perjanjian dagang terkait tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), yang akan dilakukan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump, menjadi titik harapan bagi pelaku usaha nasional. Namun, kesepakatan yang dinilai krusial untuk daya saing ekspor juga menyimpan risiko serius bagi sektor industri padat karya, jika tidak diimbangi dengan langkah antisipatif.

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sarman Simanjorang mengungkapkan, tarif dagang yang saat ini berada di level 19% berpotensi menekan kinerja ekspor produk seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik ke pasar AS. Jika tidak ada perbaikan, kondisi ini bisa menyebabkan penurunan volume ekspor, bahkan berpotensi memicu PHK secara masif.

Baca Juga:  UEA Keluar dari OPEC & OPEC+: Langkah Strategis demi Kemandirian Energi dan Ambisi Produksi

“Yang perlu diantisipasi adalah dampak dari tarif tersebut yang masih relatif tinggi, yang menyebabkan produk kita kurang kompetitif,” ujar Sarman kepada CNBC Indonesia pada Rabu (18/2/2026).

Dua Permintaan Kunci dari Apindo

Sarman mengajukan dua hal penting yang perlu diperhatikan pemerintah di tengah pemberlakuan tarif resiprokal:

1. Perluasan pasar ekspor ke kawasan baru
Ia menekankan perlunya pemerintah membantu mencari pangsa pasar alternatif melalui kerjasama multilateral dengan negara-negara di Amerika Latin dan Afrika. Hal ini sebagai mitigasi jika tarif ke AS tidak dapat ditekan secara signifikan.
2. Pemberantasan barang impor ilegal
Selain ekspansi pasar luar negeri, penguatan pasar domestik juga menjadi kunci. Sarman meminta pemerintah lebih tegas menekan peredaran produk impor ilegal yang banyak ditemukan di pusat-pusat perdagangan, terutama untuk sektor tekstil, garmen, dan alas kaki.

Baca Juga:  Di Tengah Ketegangan AS-Iran, Israel Gelar Latihan Militer Ganda untuk "Skenario Terburuk"

“Populasi penduduk Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa menjadi pangsa pasar yang potensial, yang mampu membuat industri padat karya kita bertahan,” tambahnya.

Harapan pada Pertemuan Dua Presiden

Meski mengingatkan risiko, Sarman tetap berharap adanya perubahan kebijakan tarif melalui pertemuan langsung kedua kepala negara. Pemerintah Indonesia sebelumnya menyampaikan target untuk menekan tarif sejumlah komoditas tertentu hingga nol persen, dari tingkat awal 32% yang kemudian turun menjadi 19%.

“Kita berharap ada kejutan mengenai tarif ini. Kunjungan Presiden Prabowo ke AS yang bertemu langsung dengan Presiden Trump bisa meyakinkan untuk mengubah kebijakan, sehingga produk ekspor kita semakin kompetitif,” harapnya.

Dampak pada Pertumbuhan Ekonomi

Baca Juga:  Trump Umumkan US$5 Miliar Bantuan Rekonstruksi Gaza, BoP Siapkan Ribuan Personel Stabilisasi

Sarman juga mengingatkan, tekanan terhadap ekspor tidak hanya berdampak pada tenaga kerja tetapi juga pada perekonomian secara keseluruhan. Ekspor memberikan kontribusi sekitar 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sehingga penurunan volume ekspor berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan proses negosiasi antara kedua negara telah rampung dengan legal drafting mencapai 90%. Presiden Prabowo telah bertolak ke AS sejak Senin (16/2/2026) untuk kunjungan kerja dengan agenda utama penandatanganan kesepakatan tersebut.
(EL)

CNBC Indonesia