Jakarta

Shopee Cetak Sejarah: Untuk Pertama Kalinya Bisnis E-Commerce Sea Group Raup Laba

203
×

Shopee Cetak Sejarah: Untuk Pertama Kalinya Bisnis E-Commerce Sea Group Raup Laba

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta — Perusahaan teknologi asal Singapura, Sea Ltd, akhirnya mencetak tonggak penting dalam perjalanan bisnisnya. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, unit e-commerce andalannya Shopee berhasil membukukan laba operasional tahunan, menandai fase baru transformasi perusahaan dari ekspansi agresif menuju profitabilitas.

Keberhasilan ini terutama didorong oleh investasi besar Sea dalam infrastruktur logistik, yang mempercepat pengiriman sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di berbagai pasar Asia dan Amerika Latin.

Namun di tengah kabar baik tersebut, pasar justru merespons negatif. Pendapatan tahunan Sea dinilai belum memenuhi ekspektasi analis, sehingga harga saham perusahaan yang terdaftar di New York Stock Exchange anjlok tajam hingga 16,5% pada perdagangan Selasa.

Shopee Berbalik Untung

Dalam laporan keuangan terbaru, Shopee mencatat laba operasional sebesar US$581 juta (sekitar Rp9,76 triliun) sepanjang 2025. Capaian ini menjadi pembalikan signifikan dari kerugian US$139 juta pada 2024.

Data QUICK FactSet menunjukkan bahwa ini merupakan laba tahunan pertama Shopee sejak Sea mulai melaporkan kinerja per segmen bisnis.

Baca Juga:  Selat Hormuz Kembali Dibuka, Dua Kapal Pertamina Siap Berlayar

Pertumbuhan ini tidak terlepas dari lonjakan aktivitas perdagangan di platform tersebut. Sepanjang 2025, nilai transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) Shopee mencapai US$127,4 miliar, naik 27% dibanding tahun sebelumnya.

Sea bahkan menargetkan pertumbuhan GMV sekitar 25% pada 2026, menandakan optimisme perusahaan terhadap ekspansi e-commerce di kawasan.

Investasi Logistik Jadi Mesin Pertumbuhan

Sea mengaitkan peningkatan kinerja Shopee dengan investasi besar dalam sistem logistik dan distribusi.

Melalui layanan pengiriman internal SPX Express, perusahaan kini memproses lebih dari 30 juta paket setiap hari di berbagai wilayah operasi seperti Asia Tenggara, Taiwan, hingga Brasil.

Direktur Sea, Li, menjelaskan bahwa perusahaan juga terus memperkuat layanan pengiriman cepat untuk memenuhi kebutuhan konsumen perkotaan.

“Di daerah perkotaan padat penduduk, kami meningkatkan layanan pengiriman instan dan pengiriman di hari yang sama bagi pembeli yang menghargai kecepatan dan kenyamanan,” ujarnya.

Strategi ini membantu Shopee mempertahankan dominasinya di pasar Asia Tenggara.

Dominasi Shopee di Asia Tenggara

Menurut laporan TMO Group, Shopee masih menjadi platform marketplace dengan jumlah pengunjung terbesar di Asia Tenggara pada periode Januari–Maret.

Baca Juga:  "Tidak Ada Istimewa Bagi Siapa Pun" - Prabowo Tegaskan Hukum dan Pelayanan Rakyat Tanpa Diskriminasi

Beberapa pangsa pasar utama Shopee di kawasan tersebut antara lain:

  • Vietnam: 79%
  • Malaysia: 61%
  • Thailand: 63%

Dominasi ini menunjukkan bahwa Shopee tetap menjadi pemain utama dalam persaingan e-commerce regional, meski menghadapi kompetisi ketat dari berbagai platform global.

Saham Turun Meski Kinerja Membaik

Di sisi lain, pasar menyoroti meningkatnya biaya logistik dan investasi layanan digital yang menekan profitabilitas jangka pendek.

Sea mencatat laba per saham (EPS) sebesar US$0,63 pada kuartal IV 2025, lebih rendah dari perkiraan analis sebesar US$0,75.

Hal tersebut memicu aksi jual investor yang membuat harga saham Sea turun ke US$87,82, jauh dari posisi sekitar US$190 pada Oktober tahun lalu.

Padahal, perusahaan sebelumnya telah mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) hingga US$1 miliar pada November 2025.

Garena dan Monee Tetap Jadi Mesin Uang

Selain Shopee, dua lini bisnis lainnya juga mencatat pertumbuhan solid:

  • Garena (gaming): laba operasional US$1,18 miliar, naik 21%
  • Monee (layanan keuangan digital): laba operasional US$973 juta, melonjak 38%
Baca Juga:  RUPIAH REKOR TERLEMAH DI RP16.945/US$, KEPUTUSAN BI HARINI JADI PENENTU KESEIMBANGAN PASAR

Secara keseluruhan, Sea membukukan laba bersih US$397 juta pada kuartal Oktober–Desember 2025, meningkat 67% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pendapatan naik 38% menjadi US$6,8 miliar.

Strategi Jangka Panjang

Analis Maybank Securities Singapura, Hussaini Saifee, menilai kinerja Sea sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang kuat, meskipun margin keuntungan tertekan oleh investasi logistik.

Ia menyebut kondisi ini sebagai pengorbanan jangka pendek demi pertumbuhan jangka panjang.

“Margin melemah karena investasi pemenuhan yang memerlukan biaya operasional di awal. Namun ini adalah penderitaan jangka pendek untuk keuntungan jangka panjang,” kata Saifee.

Dengan infrastruktur logistik yang semakin kuat dan basis pengguna yang terus berkembang, Sea tampaknya tengah bersiap memasuki fase baru e-commerce: dari pertumbuhan agresif menuju profit yang lebih stabil di masa depan.

Redaksi Sulut1News