Sulut1News, Teheran – Pemerintah Iran pada Rabu (21/1/2026) merilis data resmi pertama mengenai korban jiwa dalam gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara tersebut sejak akhir Desember 2025. Media pemerintah melaporkan sedikitnya 3.117 orang tewas selama tindakan penanganan yang dilakukan terhadap demonstran, dengan keterangan bahwa sebagian besar merupakan warga sipil dan personel keamanan yang dinyatakan sebagai “martir”.
Martyrs Foundation: 2.427 Korban dari Warga Sipil dan Pasukan Keamanan
Berdasarkan pernyataan yang disiarkan oleh Press TV, Martyrs Foundation memerinci bahwa dari total korban tewas, sebanyak 2.427 orang adalah warga sipil dan personel pasukan keamanan yang tewas saat berada dalam aksi. Otoritas ulama Iran mengategorikan mereka yang dianggap tidak bersalah sebagai “martir” dan menyebut gelombang protes sebagai insiden “teroris” yang didalangi oleh Amerika Serikat (AS).
Dilansir, demonstrasi awalnya muncul akibat kemarahan masyarakat dan pedagang atas anjloknya nilai tukar mata uang serta tingginya biaya hidup, sebelum berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang masif.
Laporan HAM Internasional Catat Angka Lebih Tinggi
Data resmi pemerintah ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan laporan kelompok hak asasi manusia internasional. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS mencatat jumlah korban tewas mencapai 4.519 orang, mencakup 4.251 demonstran, 197 personel keamanan, 35 anak di bawah umur, dan 38 warga yang tidak terlibat aksi namun berada di lokasi kejadian.
HRANA juga menyampaikan bahwa masih ada 9.049 laporan kematian tambahan yang sedang dalam proses peninjauan. Sementara itu, Amnesty International mendokumentasikan bahwa pasukan keamanan Iran ditempatkan di jalan-jalan dan atap gedung dengan senjata api yang diarahkan langsung ke bagian vital pengunjuk rasa yang tidak bersenjata.
Geopolitik Memanas: Iran Ancaman Balas, AS Serukan “Kehancuran Total”
Situasi dalam negeri semakin memengaruhi ketegangan geopolitik kawasan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam opini yang diterbitkan di Wall Street Journal dan dikutip Al Jazeera, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam jika diserang oleh pihak luar, merujuk pada ketegangan dengan AS dan Israel.
“Berbeda dengan penahanan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kami yang kuat tidak ragu untuk membalas dengan semua yang kami miliki jika kami kembali diserang,” tegas Araghchi, sekaligus memperingatkan bahwa konfrontasi total akan berdampak luas pada masyarakat biasa di seluruh dunia.
Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapan yang sangat keras dalam wawancara terkait isu ini. Ia memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi kehancuran total jika terbukti melakukan tindakan yang mengancam nyawa pemimpin AS. “Saya memiliki instruksi yang sangat tegas. Jika terjadi sesuatu, mereka akan dihapus dari muka bumi ini,” ujar Trump.
Namun, beberapa negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman dikabarkan tengah melakukan upaya lobi kepada pemerintah Washington agar tidak meluncurkan serangan militer ke Iran, demi mencegah ketidakstabilan ekonomi dan keamanan yang lebih parah di kawasan.
Redaksi Sulut1News






