Sulut1news.com, Jakarta – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa mengabaikan hubungan dengan China akan menjadi langkah yang gegabah dan tidak sesuai kepentingan nasional negaranya, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan berbahaya untuk berbisnis dengan Beijing.
Keterangan Starmer itu disampaikan Minggu (1/2/2026) seperti dilansir Reuters, sebagai tanggapan langsung terhadap pandangan Trump yang mengingatkan risiko kerja sama dengan China. Ia menjadi pemimpin negara Barat terbaru yang melakukan kunjungan ke Beijing, mengikuti jejak Presiden Prancis Emmanuel Macron dan mendahului rencana kunjungan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
“Akan sangat bodoh jika kita hanya mengatakan kita akan mengabaikan (China). Jika Inggris menjadi satu-satunya negara yang menolak untuk terlibat, itu tidak akan menguntungkan kita,” tegas Starmer.
Kunjungan yang meliputi pembicaraan tiga jam dengan Presiden Xi Jinping menghasilkan sejumlah kesepakatan konkrit yang dirancang untuk memperkuat posisi ekonomi Inggris di tengah ketidakpastian geopolitik akibat kebijakan Trump. Beberapa poin utama kesepakatan antara lain:
– Penurunan tarif impor untuk wiski Inggris ke pasar China
– Pelonggaran aturan visa untuk mempermudah mobilitas bisnis dan profesional Inggris
– Kemajuan signifikan dalam akses pasar bagi sektor jasa profesional Inggris
Salah satu sorotan dari kunjungan adalah komitmen investasi perusahaan farmasi Inggris AstraZeneca yang akan menanamkan dana sebesar 15 miliar dolar AS (sekitar Rp230 triliun dengan kurs saat ini) ke dalam pasar China. Meskipun juga ada beberapa pernyataan investasi kecil dari pihak China ke Inggris, aliran utama investasi pada kesempatan ini mengalir ke arah China.
Presiden Trump yang sebelumnya menyebut kerja sama dengan Beijing sebagai “berbahaya”, kembali menegaskan pandangannya ketika ditanya tentang hubungan yang semakin erat antara Inggris dan China. “Ya itu sangat berbahaya bagi mereka untuk melakukan itu,” kata Trump tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Namun Starmer menegaskan bahwa hubungan Inggris dengan Amerika Serikat tetap erat, dan Washington telah diberitahu mengenai kunjungannya ke China. Menariknya, Trump sendiri juga merencanakan kunjungan ke China pada bulan April mendatang.
Sampai saat ini, Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump.
Redaksi Sulut1News






