PLNSulut

Zero Accident di Medan Ekstrem: Strategi PLN UP3 Kotamobagu Menjaga Nyawa di Balik Terangnya Sulut

152
×

Zero Accident di Medan Ekstrem: Strategi PLN UP3 Kotamobagu Menjaga Nyawa di Balik Terangnya Sulut

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com,  Kotamobagu – Di tengah kontur perbukitan, cuaca ekstrem, dan tantangan geografis Sulawesi Utara yang tak selalu ramah, ada satu capaian yang tak banyak terlihat publik namun berdampak besar bagi keberlanjutan layanan listrik: keselamatan kerja tanpa kecelakaan.

Pada momentum Apel Bulan K3 Nasional 2026 tingkat Provinsi Sulawesi Utara di Kota Bitung, PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kotamobagu menerima Penghargaan Kecelakaan Nihil (Zero Accident)—sebuah pengakuan atas keberhasilan mempertahankan jam kerja selamat dalam periode evaluasi yang ketat.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen perusahaan dalam menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.

Namun di balik seremoni, ada transformasi budaya yang tengah berlangsung.


Dari Kepatuhan ke Budaya: Transformasi Senyap di Tubuh PLN

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Suluttenggo, Usman Bangun, menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar angka statistik tanpa kecelakaan. Ia menyebutnya sebagai indikator perubahan pola pikir.

“Di PLN, tidak ada yang lebih penting dari jiwa manusia. Zero Accident bukan hanya target administratif, melainkan hasil dari kedisiplinan menjalankan SOP dan kesadaran bahwa keselamatan adalah kebutuhan dasar,” tegas Usman.

Menurutnya, mempertahankan nihil kecelakaan di wilayah dengan medan kerja menantang seperti Sulawesi Utara bukan perkara mudah. Pekerjaan kelistrikan seringkali dilakukan di ketinggian, di tengah hujan, bahkan di wilayah terpencil dengan akses terbatas. Dalam kondisi seperti itu, satu kelalaian kecil bisa berujung fatal.

Baca Juga:  WASPADA CUACA EKSTREM: BMKG Prediksi Hujan Lebat & Angin Kencang, 11 Wilayah Sulut Berpotensi Bencana

Karena itu, pendekatan yang dibangun tidak lagi sekadar instruksi, melainkan pengawasan berlapis dan kepemimpinan aktif di setiap lini.


Strategi Lapangan: Teknologi dan Disiplin Harian

Manager PLN UP3 Kotamobagu, Reki Wowiling, mengungkapkan bahwa capaian ini lahir dari konsistensi kolektif—mulai dari pegawai internal hingga mitra kerja.

Alih-alih menunggu evaluasi tahunan, UP3 Kotamobagu menerapkan pola pengendalian risiko harian, di antaranya:

  • Safety Briefing rutin sebelum pekerjaan dimulai untuk mengidentifikasi potensi bahaya spesifik di lokasi.
  • Inspection & Audit berkala terhadap alat pelindung diri (APD) dan kelayakan peralatan kerja.
  • Digitalisasi K3, melalui pemantauan real-time aktivitas lapangan guna memastikan prosedur dijalankan sesuai standar.

Pendekatan digital ini menjadi pembeda. Pengawasan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada laporan manual, melainkan terintegrasi dalam sistem yang memungkinkan respons cepat jika ditemukan potensi pelanggaran prosedur.

“Listrik yang andal hanya bisa lahir dari proses kerja yang aman. Penghargaan ini kami dedikasikan untuk seluruh insan PLN UP3 Kotamobagu yang setiap hari memastikan terang tetap menyala tanpa mengorbankan keselamatan,” ujar Reki.


Keselamatan sebagai Fondasi Layanan Kelas Dunia

Apel Bulan K3 Nasional 2026 yang diinisiasi oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Daerah Provinsi Sulawesi Utara menjadi pengingat bahwa keselamatan kerja bukan hanya tanggung jawab internal perusahaan, tetapi juga bagian dari agenda pembangunan daerah.

Baca Juga:  Sulut Go International: Diplomasi Ekonomi YSK-Victory Tarik Minat Investor Kakap!

Bagi PLN UP3 Kotamobagu, Zero Accident bukan garis akhir. Tantangan ke depan justru lebih besar: menjaga konsistensi di tengah peningkatan beban kerja, ekspansi jaringan, serta dinamika cuaca yang kian tidak menentu.

Capaian ini sekaligus mempertegas satu pesan penting: di balik stabilnya pasokan listrik yang dinikmati masyarakat Bolaang Mongondow Raya, ada sistem keselamatan yang bekerja tanpa kompromi.

Karena pada akhirnya, keberhasilan menerangi daerah bukan hanya tentang berapa banyak kilowatt yang tersalurkan—tetapi juga tentang berapa banyak nyawa yang tetap terlindungi.

(EL)