Sulut1news.com, Beijing — Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden China Xi Jinping sepakat mempererat kemitraan strategis antara London dan Beijing, di tengah memanasnya tensi perdagangan global akibat ancaman tarif dan kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap sejumlah negara.
Kunjungan Starmer ke Beijing ini menjadi momen bersejarah, karena menandai kunjungan pertama pemimpin Inggris ke China dalam delapan tahun terakhir. Pertemuan tersebut dipandang sebagai sinyal kuat perubahan arah kebijakan luar negeri Inggris yang lebih pragmatis dan terbuka terhadap China, meski berada di bawah bayang-bayang hubungan tradisional Inggris–AS.
Dalam pertemuan bilateral, Starmer menegaskan pentingnya kerja sama lintas negara di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.
“Saya berharap kita dapat mengidentifikasi peluang konkret untuk berkolaborasi. Bekerja sama dalam isu-isu seperti perubahan iklim dan stabilitas global, terutama di masa-masa sulit bagi dunia, adalah langkah yang tepat dalam membangun hubungan ini,” ujar Starmer di hadapan Xi Jinping.
Sebelum bertolak ke Beijing, Starmer secara terbuka menyatakan bahwa berbisnis dengan China merupakan pilihan pragmatis, sekaligus menandai pendekatan baru Inggris terhadap ekonomi terbesar kedua dunia. Menurutnya, sudah saatnya London membangun hubungan yang “dewasa dan realistis” dengan Beijing, terlepas dari dinamika geopolitik yang berkembang.
Pernyataan ini dinilai sebagai upaya Inggris untuk mendiversifikasi mitra ekonomi dan perdagangan, khususnya di tengah ketidakpastian hubungan dagang global yang dipicu oleh kebijakan tarif agresif AS di bawah kepemimpinan Trump.
Presiden China Xi Jinping menyambut positif langkah Inggris tersebut. Ia menekankan bahwa di tengah situasi internasional yang semakin kompleks dan saling bergantung, dialog dan kerja sama antarnegara justru menjadi kunci stabilitas global.
“Hal-hal baik sering kali datang bersama kesulitan. Selama itu adalah hal yang benar dan sejalan dengan kepentingan mendasar negara serta rakyatnya, para pemimpin tidak akan menghindari tantangan dan akan terus melangkah maju dengan berani,” kata Xi.
Xi juga menegaskan kesiapan China untuk memperdalam komunikasi strategis dengan Inggris, baik di bidang ekonomi, perubahan iklim, teknologi, hingga peran bersama dalam menjaga stabilitas global.
Pengamat menilai pertemuan Starmer–Xi bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa, melainkan sinyal politik penting di tengah menguatnya fragmentasi global. Inggris tampak berupaya menyeimbangkan hubungan transatlantiknya dengan AS, sambil tetap membuka ruang kerja sama dengan China sebagai kekuatan ekonomi dunia.
Di tengah ancaman tarif dan eskalasi konflik dagang global, penguatan hubungan Inggris–China dinilai dapat menjadi penyeimbang baru dalam peta geopolitik internasional, sekaligus membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas bagi kedua negara.
Redaksi Sulut1News






