Terkini

Pakistan Deklarasi Perang ke Taliban, Serangan ke Kabul Tewaskan Ratusan Pejuang

109
×

Pakistan Deklarasi Perang ke Taliban, Serangan ke Kabul Tewaskan Ratusan Pejuang

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Ketegangan di perbatasan Pakistan–Afghanistan kembali memuncak. Menteri Pertahanan Pakistan, , secara terbuka mendeklarasikan perang terhadap pemerintahan pada Jumat (27/2), menyusul rangkaian serangan lintas batas yang menewaskan ratusan orang dari kedua belah pihak.

“Kesabaran kami sudah habis. Sekarang adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” tegas Asif dalam unggahan di platform X, seperti dikutip AFP.

Serangan Udara hingga Klaim Ratusan Korban

Pernyataan keras tersebut muncul beberapa jam setelah Pakistan meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah Afghanistan, termasuk ibu kota , pada dini hari Jumat.

Militer Pakistan mengklaim sedikitnya 133 pejuang Afghanistan tewas dan lebih dari 200 lainnya mengalami luka-luka dalam operasi tersebut. Pemerintah Islamabad menyatakan operasi militer difokuskan pada target-target yang dianggap mengancam stabilitas keamanan nasional.

Dalam pernyataan resminya yang dikutip CNN, Kementerian Informasi Pakistan menyebut pasukan Taliban “sedang menerima balasan” di sektor Chitral, Khyber, Mohmand, Kurram, dan Bajaur — wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan Afghanistan.

Baca Juga:  Pemkot Manado Berlakukan Batas Jam Usaha Pariwisata Saat Hari Raya, Jaga Harmoni Antara Ekonomi dan Nilai Keagamaan

Serangan Balasan Afghanistan

Sebelumnya, pada Kamis (26/2) malam, pihak Afghanistan melancarkan serangan terhadap sejumlah situs militer Pakistan di sepanjang Garis Durand. Pemerintah Taliban menyebut operasi itu sebagai respons atas bentrokan perbatasan pada akhir pekan lalu yang menewaskan sedikitnya 18 warga Afghanistan.

Juru bicara pemerintah Taliban, , dalam pernyataannya di X yang dikutip Al Jazeera, mengatakan:

“Sebagai tanggapan atas provokasi dan pelanggaran berulang oleh militer Pakistan, operasi ofensif skala besar telah diluncurkan terhadap posisi dan instalasi militer Pakistan di sepanjang Garis Durand.”

Militer Afghanistan mengklaim 55 tentara Pakistan tewas dan 19 pos militer berhasil direbut. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Islamabad yang menyebut hanya dua personel tewas dan tiga lainnya terluka.

Baca Juga:  Tarif Dagang 19% Jadi Ancaman PHK Massif – Apindo Minta Prabowo Borong Pasar Baru Saat Temui Trump

Peran Taliban Pakistan (TTP)

Ketegangan ini tidak lepas dari aktivitas kelompok militan (TTP), atau Taliban Pakistan. Islamabad menuduh kelompok tersebut sebagai dalang berbagai serangan mematikan di wilayah Pakistan dalam beberapa pekan terakhir.

Pakistan sebelumnya melancarkan serangan udara terhadap kamp-kamp TTP dan afiliasinya di wilayah Afghanistan pada akhir pekan lalu. Pemerintah Pakistan mengklaim memiliki “bukti meyakinkan” bahwa para militan yang menyerang wilayahnya beroperasi atas perintah pimpinan mereka yang berbasis di Afghanistan.

Garis Durand: Perbatasan Panjang Sarat Konflik

Perbatasan Afghanistan–Pakistan, yang dikenal sebagai , membentang sepanjang 2.611 kilometer. Garis ini telah lama menjadi sumber ketegangan historis dan politik antara kedua negara, termasuk sengketa pengakuan batas wilayah.

Baca Juga:  Pendaftaran Mahasiswa Baru 2026 Dibuka, Tawarkan Kuliah Gratis dan Karier Militer

Meski kedua negara telah menyepakati gencatan senjata sejak Oktober lalu, kesepakatan tersebut dinilai rapuh. Insiden baku tembak dan serangan lintas batas masih kerap terjadi, memperlihatkan betapa mudahnya situasi kembali memburuk.

Ancaman Eskalasi Lebih Luas

Deklarasi perang terbuka oleh pejabat tinggi Pakistan meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi eskalasi konflik berskala besar di kawasan Asia Selatan. Ketidakstabilan di wilayah ini berisiko memicu krisis kemanusiaan baru, mengingat jutaan warga sipil tinggal di sekitar perbatasan yang rawan konflik.

Hingga saat ini belum ada tanda-tanda mediasi internasional untuk meredam ketegangan. Jika tidak segera dikendalikan, konflik terbuka ini berpotensi menyeret kedua negara ke dalam perang berkepanjangan dengan dampak regional yang luas.

(EL)
Sumber: CNN Indonesia