Sulut1news.com, Jakarta – Berakhirnya Perjanjian New START pada Kamis (5/2/2026) waktu lokal menghapus seluruh pembatasan kepemilikan senjata nuklir bagi Amerika Serikat (AS) dan Rusia – dua negara yang menguasai sekitar 90% persenjataan atom dunia – untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad. Menanggapi hal ini, China mengeluarkan peringatan keras dan mendesak AS segera merespons usulan Rusia untuk memperpanjang pembatasan senjata nuklir selama satu tahun guna mencegah terjadinya instabilitas strategis global.
Dikutip dari CNBC Indonesia dan Newsweek, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa berakhirnya perjanjian yang telah berjalan sejak tahun 2011 tersebut benar-benar disesalkan dari sudut pandang Beijing.
“Perjanjian ini sangat penting bagi stabilitas strategis global. Berakhirnya New START menimbulkan kekhawatiran luas terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional dan tatanan nuklir dunia,” tegas Lin dalam pernyataan resminya.
Dari sisi Moskow, Kremlin juga menyampaikan penyesalan atas berakhirnya pakta tersebut. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia memandang situasi ini secara negatif, namun menegaskan negaranya akan tetap konsisten dalam menjalankan pendekatan yang bertanggung jawab dan menyeluruh terhadap stabilitas senjata nuklir, dengan berpedoman pada kepentingan nasional.
“Pada kondisi saat ini, para pihak tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam konteks New START, termasuk ketentuan intinya, dan pada dasarnya bebas menentukan langkah selanjutnya,” tambah Kementerian Luar Negeri Rusia.
Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), AS dan Rusia masing-masing diperkirakan memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak nuklir. Tanpa adanya pembatasan dari New START, kedua negara kini bebas untuk meningkatkan jumlah maupun kemampuan persenjataan atom mereka.
Sebagai kekuatan nuklir ketiga, China mengakui telah mempercepat pengembangan kemampuan nuklirnya dalam beberapa tahun terakhir – dengan perkiraan Pentagon mencapai lebih dari 600 hulu ledak nuklir operasional. Namun, Beijing menegaskan bahwa langkah tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional minimal dan tidak memiliki niat untuk terlibat dalam perlombaan senjata.
“China mempertahankan strategi nuklir defensif dan kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu. Kami tidak akan ikut serta dalam negosiasi perlucutan senjata nuklir untuk saat ini, mengingat jumlah persenjataan kami jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia,” jelas Lin.
Sampai saat ini, Washington belum memberikan tanggapan resmi atas proposal perpanjangan satu tahun yang diajukan Rusia. China berharap AS akan secara aktif merespons proposal tersebut dan segera melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia, sesuai harapan komunitas internasional.
Redaksi Sulut1News
Sumber: CNBC Internasional






