Sulut1news.com, Jakarta – Indonesia memasuki tahun 2026 dengan agenda perdagangan yang ambisius dan strategis, mengangkat diri sebagai pemain utama di peta perdagangan global. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan sederet perjanjian dagang yang tengah dan akan diselesaikan tahun ini, dengan fokus utama pada penandatanganan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA) yang diharapkan dapat segera diimplementasikan pada 2027.
Seluruh langkah ini selaras dengan diplomasi luar negeri aktif yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, yang bahkan pada hari yang sama (Jumat, 6/2/2026) memperkuat kemitraan strategis dengan Australia melalui pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri Anthony Albanese di Istana Merdeka – membuktikan bahwa kerja sama ekonomi dan keamanan menjadi dua pilar utama dalam memperkuat posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam konferensi pers di Auditorium Kementerian Perdagangan, Mendag Budi Santoso menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan target tegas untuk menyelesaikan sejumlah perundingan dagang strategis tahun ini.
“Kita harus selesaikan penandatanganan Indonesia-EU CEPA dan Indonesia-Tunisia PTA pada tahun 2026, sehingga harapan kami tahun depan sudah bisa diimplementasikan,” ujar Budi dengan nada tegas.
Ia mengakui bahwa proses perundingan dagang bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat, namun pemerintah berkomitmen untuk mempercepat intensitas pertemuan agar kesepakatan dapat segera tercapai.
“Pengalaman menunjukkan pembuatan perjanjian dagang bisa memakan waktu bertahun-tahun, tetapi kita akan meningkatkan frekuensi pertemuan di meja perundingan agar kesepakatan bisa segera terwujud – termasuk juga penyelesaian proses ratifikasi untuk semua perjanjian yang telah disepakati,” jelasnya.
DERET PERJANJIAN DAGANG YANG DILANJUTKAN – DARI GCC SAMPAI MERCOSUR
Selain perjanjian yang akan ditandatangani, Indonesia juga tengah melanjutkan pembahasan kerja sama dagang dengan berbagai mitra strategis di seluruh dunia, antara lain:
– Indonesia-GCC Free Trade Agreement (FTA)
– Indonesia-MERCOSUR CEPA
– Indonesia-Türkiye PTA
– Indonesia-Pakistan CEPA
– Global Reciprocal Indonesia-Australia CEPA
– Indonesia-Bangladesh PTA
Di tingkat kawasan, perundingan juga mencakup ASEAN-Canada FTA dan ASEAN-India FTA, yang diharapkan dapat memperluas akses pasar bagi produk dari negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia.
Pada tahap ratifikasi dan peningkatan perjanjian yang sudah ada, pemerintah menargetkan penyelesaian sejumlah kesepakatan penting seperti protokol perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), ASEAN-Hong Kong FTA (AHKFTA), dan ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZFTA). Selain itu, juga difokuskan pada penguatan kerja sama kawasan melalui ASEAN-China FTA 3.0 dan ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) Upgrade.
Tak hanya itu, Indonesia juga mendorong penyelesaian perundingan dengan negara lain seperti Canada CEPA, Peru CEPA, hingga Eurasian Economic Union (EAEU) FTA.
“Seluruh agenda ini dirancang untuk memperluas akses pasar, menurunkan hambatan tarif, serta memperkuat posisi produk Indonesia di pasar global,” jelas Mendag Budi.
Sementara itu, di Istana Merdeka, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Anthony Albanese sepakat untuk memperkuat kemitraan bilateral melalui dua pilar utama: keamanan dan ekonomi. Kedua pemimpin menandatangani Perjanjian Jakarta 2026 sebagai traktat keamanan bersama yang mencerminkan komitmen menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
“Australia merupakan tetangga terdekat sekaligus mitra strategis Indonesia dengan fondasi sejarah yang panjang, termasuk dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan kita sejak 1945,” tegas Prabowo dalam pertemuan tersebut.
Dalam aspek ekonomi, kerja sama diperluas ke berbagai sektor kunci:
– Pertanian dan Ketahanan Pangan: Pendirian joint venture pertanian untuk mendukung swasembada pangan Indonesia.
– Hilirisasi Mineral Kritis: Indonesia mengundang Australia berinvestasi di sektor pengolahan nikel, tembaga, bauksit, dan emas – sekaligus membuka peluang bagi perusahaan nasional untuk berinvestasi di sektor pertambangan Australia.
– Pendidikan dan Tenaga Kerja: Perluasan Mutual Recognition Agreements agar profesional Indonesia dapat berkontribusi lebih luas di Australia.
Pemerintah menilai bahwa kombinasi antara percepatan perjanjian dagang multilateral dan penguatan hubungan bilateral menjadi kunci utama untuk menjaga momentum ekspor Indonesia sekaligus memperkuat posisi negara dalam peta perdagangan global yang semakin kompetitif.
Dengan agenda yang jelas dan dukungan diplomasi yang kuat, Indonesia siap menghadapi tantangan dan peluang di tahun 2026 – membawa harapan bagi pelaku usaha nasional untuk menjangkau pasar baru dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah dunia.
Redaksi Sulut1News






