Sulut1news.com, Manado — Alih-alih menunggu laporan di ruang rapat, Panitia Khusus (Pansus) LKPJ Gubernur Sulawesi Utara 2025 memilih “turun gelanggang” langsung ke jantung operasional Bank Sulut Gorontalo (BSG). Langkah ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sinyal kuat bahwa DPRD Sulut ingin memastikan arah baru bank daerah benar-benar berpijak pada kinerja, bukan hanya pergantian figur.
Dipimpin Ketua Pansus Raski Mokodompit, rombongan DPRD Sulut menyambangi Kantor Pusat BSG di Manado, Rabu (15/4/2026), bertepatan dengan fase transisi penting pasca pergantian direksi dan komisaris. Momentum ini dimanfaatkan untuk menguji langsung konsistensi strategi, kualitas tata kelola, serta keberlanjutan kontribusi BSG terhadap perekonomian daerah.
“Selama ini pola pengawasan cenderung formal—kami panggil, mereka datang. Tapi kali ini kami ingin melihat langsung bagaimana sistem berjalan, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana visi baru itu diterjemahkan di lapangan,” tegas Raski.
Pendekatan “jemput bola” ini dinilai sebagai upaya redefinisi fungsi pengawasan DPRD terhadap BUMD. Tidak lagi sebatas evaluasi berbasis dokumen, melainkan verifikasi faktual terhadap kinerja, risiko, dan peluang yang dihadapi entitas strategis daerah.
Rombongan Pansus diterima langsung oleh Direktur Utama BSG Revino Pepah, didampingi Komisaris Utama GS Vicky Lumentut serta jajaran direksi. Dalam pertemuan tersebut, manajemen memaparkan capaian kinerja tahun buku 2025, termasuk indikator pertumbuhan, ekspansi layanan, hingga strategi menghadapi tantangan sektor keuangan ke depan.
Namun, bagi Pansus, angka-angka saja belum cukup.
Fokus utama justru diarahkan pada tiga hal krusial: kesinambungan bisnis pasca pergantian manajemen, efektivitas transformasi digital, serta peran nyata BSG dalam mendorong sektor produktif seperti UMKM dan pembiayaan pembangunan daerah.
“Kami tidak hanya melihat apa yang sudah dicapai, tetapi juga bagaimana kesinambungannya. Pergantian manajemen tidak boleh mengganggu stabilitas, justru harus menjadi momentum akselerasi,” ujar Raski.
Kunjungan ini juga menjadi ajang “uji kecocokan” antara legislatif dan manajemen baru BSG. Sinkronisasi visi dinilai penting agar bank daerah ini tetap menjadi motor penggerak ekonomi Sulut, bukan sekadar institusi keuangan konvensional.
Di sisi lain, langkah Pansus ini memberi pesan bahwa pengawasan terhadap BUMD kini bergerak ke arah yang lebih adaptif dan berbasis realitas lapangan. Transparansi, akuntabilitas, dan dampak ekonomi menjadi parameter utama, bukan lagi sekadar kepatuhan administratif.
Menutup kunjungan, Raski menegaskan bahwa hasil peninjauan lapangan ini akan menjadi bahan penting dalam penyusunan rekomendasi LKPJ Gubernur 2025.
“Yang paling utama, kami ingin memastikan BSG tetap berada di jalur yang tepat—sehat secara bisnis, kuat secara tata kelola, dan maksimal dalam memberi kontribusi bagi masyarakat Sulawesi Utara,” pungkasnya. (MARS)






