Terkini

Rupiah Menguat di Tengah Tekanan Dolar AS, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed

69
×

Rupiah Menguat di Tengah Tekanan Dolar AS, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed

Sebarkan artikel ini
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 85?

Sulut1news.com, Jakarta — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (10/2/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring melemahnya sentimen global terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.770 per dolar AS, menguat 0,15% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah pada perdagangan Senin (9/2/2026) rupiah berhasil mematahkan tren pelemahan dan ditutup menguat 0,39% di posisi Rp16.795 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang masih berada di bawah tekanan. Hingga pukul 09.00 WIB, DXY tercatat menguat tipis 0,10% ke level 96,964, namun secara keseluruhan masih merefleksikan pelemahan signifikan setelah sehari sebelumnya terkoreksi hingga 0,83%.

Baca Juga:  JEPANG MENYITA KAPAL NELAYAN CHINA, KAPTEN DITANGKAP – KETEGANGAN MEMUNCUL SETELAH PERNYATAAN INTERVENSI MILITER TERHADAP TAIWAN

Dolar AS Tertekan Isu Global

Pergerakan rupiah hari ini tidak terlepas dari dinamika dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap greenback meningkat seiring munculnya laporan bahwa regulator China mengimbau lembaga keuangan domestik untuk menahan laju kepemilikan surat utang pemerintah AS. Isu ini memicu kekhawatiran pasar akan berkurangnya permintaan asing terhadap aset berdenominasi dolar AS, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama kekuatan greenback.

Selain itu, sentimen negatif terhadap dolar semakin menguat setelah Direktur National Economic Council AS, Kevin Hassett, menyatakan bahwa pasar perlu bersiap menghadapi angka ketenagakerjaan AS yang lebih rendah ke depan. Pernyataan tersebut didasarkan pada perlambatan pertumbuhan populasi serta peningkatan produktivitas, yang berpotensi menekan penciptaan lapangan kerja baru.

Baca Juga:  Ketika Bertahan Hidup Menggerus Bumi

The Fed Jadi Fokus Pasar

Di sisi lain, perhatian pelaku pasar global masih tertuju pada arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Pasar terus menimbang peluang pelonggaran kebijakan moneter tahun ini, di tengah sinyal perlambatan ekonomi AS.

Ketidakpastian juga meningkat menyusul mencuatnya kabar nominasi Kevin Warsh sebagai kandidat pengganti Jerome Powell dalam kursi Ketua The Fed. Pergantian kepemimpinan ini dinilai berpotensi membawa perubahan arah kebijakan moneter AS ke depan, sehingga membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati.

Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, kontrak Fed funds futures terakhir menunjukkan probabilitas tersirat 17,8% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya yang dijadwalkan berakhir 18 Maret 2026.

Baca Juga:  Niklas Silangen Resmi Jadi Sekretaris DPRD Sulut, Gubernur YSK Titipkan Amanah Perkuat Sinergi Eksekutif dan Legislatif

Rupiah Berpeluang Bertahan

Kombinasi tekanan terhadap dolar AS dan sikap wait and see investor global membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi pada aset berdenominasi dolar. Kondisi ini membuka ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.

Namun demikian, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan data ekonomi AS serta sinyal kebijakan The Fed selanjutnya, yang akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah ke depan.
Redaksi Sulut1News